Pengikut

Tampilkan postingan dengan label Buletin Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin Remaja. Tampilkan semua postingan

Mencari Sahabat Sejati


Ga ada manusia yang bisa hidup sendiri. Sehebat apapun dirinya. Setinggi apapun gelar pendidikannya. Tiap orang pasti butuh yang namanya sahabat. Mungkin kita sendiri ga sadar, kapanpun dan dimanapun kita berada, kita musti ingin berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Kita ga akan mau dicuekin gitu aja. Dikacangin, apalagi ditinggalin. Soalnya kentut sembarangan sih, bauk tauk..!!. Kaciyan tuh. Mau kita sih, pengen interaksi ama siapa aja, baik ama tukang koran, tukang sayur, atawa tukang ledeng, tapi yang pasti jangan mau ngomong ama tukang tipu. Hehe. Ini normal kok. Karena itu udah jadi fitrah manusia. Ga akan bisa kita hindari.


Nah, model saling ungkap kata dan interaksi inilah yang bisa merajut benang pertemanan, persahabatan, atau bahkan rasa cinta. Ya, kata-kata memang sakti banget. Lebih manjur dari batu celupnya Ponari atau tongkat sihirnya Harry Potter. Wacaow. Awalnya simpel. Tinggal saling cerita, saling umpan kalimat, dan akhirnya nyambung deh. Nah, mayoritas persahabatan diawali dengan untaian kata-kata yang saling konek satu sama lain. Bukanlah pertemanan sejati kalo dimulai dengan harta atau kedudukan. Semisal kong kalikong dari orang yang mau jadi caleg, koalisi parpol atau ndusel ama orang yang dapat warisan seluas lumpur lapindo. Buseet…

Selain itu, banyak diantara kita yang dapat teman dari tempat yang sering ditongkrongin. Kalo kita biasa kumpul ama anak-anak gank, rekan kita juga bakal didapat dari sana. Demikian juga kalo kita sering bergaul ama anak-anak rohis, atau SKI. Pasti fotokopian kita, juga akan diperoleh dari sana. Jadi ga salah ketika Rasulullah bilang, kalo sifat seseorang ga akan jauh beda dengan sifat temannya. Ibarat pinang dibelah dua. Udah klop satu sama lain. Seperti cermin, satu orang adalah bayangan bagi yang lain. Bagaikan dua sisi mata uang, yang ga bisa dipisahkan. Nah, begitulah gambaran seorang sahabat. Baik atau tidaknya perilaku kita, langsung atau enggak, bisa nular dari sahabat. So, hati-hati lho kalo mau nyari sahabat. Jangan asal comot, bisa nggigit nanti. Emangnya kucing dalam karung!! Lho, jangan salah, ga sedikit rekan kita yang kejebak di lembah hitam gara-gara rekannya. Dan banyak juga sobat yang bisa sadar dan kembali ke jalan Allah karena sahabatnya. Jadi, boleh dibilang, kalo sahabat itu punya peran yang amat besar dalam hidup kita. Sehingga pencarian seorang sahabat sejati, ga salah bila kudu kita ungkap dan telusuri. Supaya kita ga salah langkah nanti. Oke deh…

Tips Bersahabat Ria

Punya sahabat adalah kebahagiaan yang tiada tara. Apalagi buat remaja, sahabat punya makna yang ga ternilai. Karena dengan sahabat, berarti kita sudah menemukan kepercayaan dan pengertian. Soalnya, kepercayaan dan pengertian, ga akan mampu kita bagi selain dengan sahabat sejati. Banyak banget lho kisah persahabatan yang terungkap di layar lebar, yang nunjukin kalo arti sahabat itu sangat bermakna. Sahabat bisa berjumlah banyak seperti Laskar Pelangi. Namun ada juga yang bisa dihitung hanya dengan telunjuk alias satu doang, seperti Abdel dan Temon. Malahan, masyarakat barat menganggap hewanlah sahabat sejati manusia. Seperti anjing dan kucing. Soalnya ga rewel dan ga ngomelan kali ya…(ye, emangnya anjing bisa ngomel apa??).Tapi ada juga yang menggambarkan sahabat dari dunia lain, seperti Tuyul dan Mbak Yul. Wacaow, ini sih kalo mau curhat repot, soalnya ga ada nomor hpnya …(hehehe).

By the way, seklumit contoh tadi selayaknya udah menggugah kita tentang pentingnya sahabat (ye…nidji bangeet). Dan, karena kita seorang muslim, untuk mendapatkan kriteria sahabat yang tepat, kita kudu ngikut gimana Rasulullah SAW ngasih contoh. Ga asal ambil aja. Mentang-mentang tampang bening dan tajir, eh…mau kita jadi sahabat. Sedang kalo orangnya romusa alias rombongan manusia susah, ogah banget kita berteman ama mereka. Waduh sobat, ini kekeliruan besar yang kudu kita benahi bersama. Nah, supaya ga salah langkah lagi, monggo tips di bawah ini dibaca:

1. Sahabat sejati diupayakan yang sama akidahnya alias muslim atau muslimah. Bukannya kita mau ngungkit perbedaan SARA. Tapi inilah yang dicontohkan Islam. Soalnya, sebagian besar sahabat itu ngerti kebiasaan rekannya mulai dari tidur ampe tidur lagi. Belum lagi kebiasaan sahabat bisa aja nular ke kita secara langsung. Bayangin aja, kalo best fren kita bukan muslim, trus ga biasa sholat. Bisa-bisa nanti kita ketularan ga ngerjain sholat juga tuh. Nah, inilah yang dikuatirkan kalo yang kita jadikan sahabat itu adalah rekan yang berbeda iman. Untuk hal ini Rasulullah SAW udah ngingetin kita, ”Orang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat.” (HR Tirmidzi). Selain itu Allah SWT udah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.” (TQS. Ali-Imran: 118)

2. Sahabat sejati usahakan yang sesama jenis kelamin. Kalo cewek ya ama cewek. Demikian juga yang cowok, kalo mau cari teman lengket, ya kudu sama-sama cowok juga. Bukan berarti kita nggiring kamu supaya suka sesama jenis lho.Wekk...byor. Bukan maksud kita supaya kamu ga bisa berteman dengan lawan jenis. Tapi tujuan kita, biar kamu ga kejerumus ke dalam lembah pacaran bahkan perzinahan. Soalnya, ga dikit lho cowok yang awalnya bersahabat dengan cewek, eh ujung-ujungnya kena virus merah jambu. Masih ingat kan kisah Rahul dan Anjali dalam film Kuch Kuch Hotta Hai. Awalnya saling gengsi dan sahabatan, ealah, akhirnya malah pacaran. Kalo udah gini, kan kita bakal kena dosa ding. Lagipula banyak banget batasan pergaulan antara pria dan wanita dalam Islam. Khususnya yang belum jadi mahram kita. Dan semuanya, kudu kita patuhi rambu-rambunya. Kalo kamu masih maksa pengen sahabatan ama lawan jenis, lebih baik ijab kabul aja dulu ama dia, alias nikah. Gimana..berani ga??!

3. Carilah sahabat yang mau diajak ke jalan kebaikan. Artinya kamu kudu cinta dia karena Allah, dan benci dia juga karena Allah. Bukan rekan kamu, kalo dia malah ngajak kamu berbuat dosa dan maksiat. Semisal, ada teman kamu satu kelas yang ngajak ngedrugs atau bolos bareng-bareng. Kalo ada yang nolak, dia bakal nganggep orang tadi bukan sahabatnya. Buseeet..Kalo seperti ini yang dimaksud persahabatan, bumi bisa kacau fren. So, kalo ada teman kita yang seperti itu, diingatkan aja. Ga usah takut dibenci lah, dijauhi lah, dianggap kuper lah...Karena itu hanya anggapan dia sesaat doang. Lagipula, kalo kita biarin dia berbuat maksiat, justru sebenarnya kita ga care ama dia. Ga peduli ama dia. Ga sayang dengan dia. Ga salah kalo kita simak ucapan Ali bin Abi Thalib r.a, “Berikanlah perhatian kepada sahabatmu, karena mereka menjadi bekal kalian di dunia dan di akhirat. Tidakkah kalian mendengar tangisan manusia di dalam api neraka?”.

4. Oya, yang terakhir dari tips kita adalah, carilah best friends yang saling mengutamakan dan mengerti satu sama lain. Tentunya standar yang kita pake adalah aturan Islam. Ini penting lho, soalnya yang namanya ikatan sesama manusia ga ada yang mulus, terkadang longgar dan kadang setel kenceng. Disinilah letak pengertian antar rekan. Termasuk di dalamnya adalah saling menutup aib rekannya yang lain. Kekurangan sahabat kita, yang memang ga perlu diungkap, jangan diomongin ke orang lain. Bisa-bisa sekolah kita jadi media infotainment dadakan. Karena, aib rekan, kita gosipin kemana-mana. Kalo bisa, ingatkan aja dia terus-menerus, sampe dia sadar dan kembali berbuat baik, jangan diobral, nanti minta diskon lagi...(eit shopping kali...).

Untuk yang satu ini, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menyembunyikan (aib) seorang muslim, maka Allah akan menyembunyikan (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba yang gemar menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Jadi Best Friend, Ga Gampang

Sobat, kata orang, mudah untuk mencari teman kala tertawa, tapi sulit mendapat teman kala menangis. Ya, kalo kita pengen jadi teman sejati orang lain, seharusnya kita paham apa hak dan apa kewajiban kita pada dirinya. Kita memang berhak dihormati dan dihargai, tapi jangan lupa, teman kita juga punya hak yang sama dari kita. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al Ghazali menuangkan tulisannya, “Tidaklah seorang menemani sahabatnya, meskipun hanya sesaat di siang hari, kecuali ia akan ditanya (tentang tanggung jawabnya) dalam persahabatan itu, apakah dia melaksanakan hak-hak Allah atau mengabaikannya.” Supaya kita ngerti, apa hak dan kewajiban kita atas sahabat kita tadi, mau ga mau, kita kudu belajar Islam. Karena hanya dengan belajar Islam, kita bisa menjadikan sebuah persahabatan menjadi indah dan barokah. Asyik kan..

Dikala teman kita mendapat kegembiraan, kita kudu berupaya mengingatkan dia supaya ga larut dalam euforia, dan lebih banyak bersyukur pada Allah. Semisal, kalo teman kita tadi mendapat rizki yang melimpah, seyogyanya kita ngingetin dia untuk berzakat dan berinfaq. Demikian pula kalo rekan kita mendapat musibah, sebagai seorang sahabat, kita kudu sharring ama dia dan ngomong, kalo segalanya berasal dari Allah dan akan kembali pada-Nya. Dan jangan lupa, kita juga harus membangkitkan lagi semangatnya.
Seklumit kisah tentang sahabat yang kita tulis disini, moga jadi titik awal kita untuk bersahabat secara benar dan syar’i. Lagi-lagi kita ga bosan untuk ngingatin diri kita dan sobat semua untuk belajar Islam. Karena disinilah pangkal dari semua kebaikan. Kalo sobat udah mulai belajar Islam, maka istiqomahlah. Jangan mandeg di tengah jalan. Kalopun di dunia kita ga bisa ketemu dan menjadi teman baik, moga kita semua nanti bisa bertemu di surga dan jadi sahabat sejati disana. Amin. (dy)http://www.islamuda.com/?imud=rubrik&menu=baca&kategori=1&id=534


Read More......

Hapus Tradisi Malam Minggu

Aduuh, kalo udah ngomongin malam minggu, seru abis deh jadinya. Kayak lagu yang dibawain Bang Jamal Mirdad “Malam minggu malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran, pacar baru, baru kenalan, kenal di jalan jendral sudirman.” Lain Bang Jamal, lain pula Mas Jikustik. Lagunya yang berlirik, “Malam ini malam minggu, kau menunggu di rumahmu, selamat malam dunia, ku siap tuk berpesta, tunggu aku disana, bertemu oh baby, selamat malam dunia, gairahku berpesta, kita lewati malam, berdua oh baby”.

Emang ga bisa dipungkiri deh, ada sebuah ikatan antara weekend day alias malam minggu dengan jiwa remaja. Jika ada remaja yang ga hang out pas weekend day, siap-siap deh dijadiin bahan gosip ama tetangga sebelah yang kurang kerjaan. Dari anak jadul alias jaman dulu, ga gaul, ga punya gebetan, jomblo, sampe dianggap dukun, soalnya terus aja bertapa di dalam rumah (emang besok keluar angka berapa mas…togel kali…). Hehehe, nah sobat, biasanya di malam minggu ada aja kegiatan seorang remaja, kalo ga ada kegiatan, ya di ada-adain, supaya keliatan sibuk banget. Dari aktifitas sekedar iseng, jalan-jalan, kumpul bareng teman satu kelas, sampe clubbing hingga pagi. Yang penting, di weekend day ada temen yang bisa diajak untuk jalan. Sepertinya ga seru banget deh kalo sabtu malam minggu hanya dihabisin dengan duduk termenung, apalagi di dalam kamar mandi. Hehehe...

Fenomena Sebuah Malam

Sobat, malam minggu adalah malam yang sangat dinanti. Apalagi untuk kita yang masih muda. Pengen ke mall-lah, pengen jalan-jalan lah, ngeceng lah, pokoknya udah bejibun kegiatan, ada di pikiran kita. Hanya untuk menghabiskan waktu berakhir pekan. Memang bener, perayaan weekend susah banget dilupain. Dikarenakan auranya yang begitu lekat di jiwa semua orang, khususon yang masih imut dan muda. Tapi kalo yang sudah bermutu atau bermuka tua, nanti dulu yee, ngantri. Nah sobat, feeling yang dekat inilah yang ngebikin suasana malam minggu sepertinya sangat istimewa. Sebut aja deh, kalo kita inget pacar, maka kita pasti ingat weekend day. Malahan tradisinya, jalan-jalan di seluruh kota, dibuat lebih ramai dari hari biasanya. Di seluruh ruas jalan dipadati oleh manusia yang ingin menikmati weekend day. Taman kota yang sepi pengunjung pada hari biasa, mendadak ramai ketika malam minggu tiba. Yang pasti jarang banget di malam minggu jalanan bakal sepi, kecuali pas BBM naik lagi....hehe sebel.

Ngapain aja seh, di malam minggu? Di id.answer.yahoo.com, buanyak banget remaja yang ngasih masukan, ngapain aja enaknya di malam minggu. Nickname freelho menjawab, “Ya yang asyik, pergi ke warnet, chatting atau cari kenalan baru dong, siapa tahu ada yang cocok.” Gubrak. Sedangkan nickname Bang aji ngasih komen, “Kalo memang merasa jomblo, baeknya cari pasangan / pacar..., asyik kok berlama-lama di internet.” Eit, udah deh, itu kayaknya udah cukup mewakili temen-temen kita yang lain. So pasti jawabannya ga jauh beda. Iya kan.

Sobat, kita mungkin ngerasa hepi ketika weekend tiba. Feeling fun kumpul ama teman se-gank, sekelas atau cuma sekedar nongkrong di pinggir jalan. Kita ngerasa kalo hal tersebut menyenangkan, meski kita tahu, detik demi detik umur kita banyak kebuang sia-sia. Ga sedikit lho, temen kita yang ngehabisin waktu, tenaga dan uang untuk sekedar menikmati malam minggu. Bahkan rela puasa seminggu penuh, karena ngempet pengen apel bareng doi. Ati-ati lho fren, rutinitas yang sia-sia di malam minggu bisa jadi, akan bikin kita nyesel di kemudian hari. Apalagi kalo kita udah tua nanti. Sudah banyak sobat, contoh orang-orang yang ketika tua menyesali masa mudanya. Mereka sebelumnya tidak menggunakan waktu dengan seefisien mungkin. Mereka cenderung ngelepasin waktu yang berharga begitu saja. Nah, berdasarkan survei (tahun 2006) terhadap warga Belgia yang berusia di atas 60 tahun, diperoleh informasi yang cukup mengejutkan. Hampir semua manula tersebut nyesel karena udah mengabaikan masa muda mereka. 72 % - menyesal karena kurang bekerja keras sewaktu masih muda, 67 % - menyesal karena salah memilih profesi atau karier, 63 % - menyesal karena kurang waktu mendidik anak mereka atau menggunakan pola didik yang salah, 58% - menyesal karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan, 11% - menyesal karena tidak memiliki cukup uang. Nah lho..

Ehem, ada pepatah Jawa yang bilang, “Blangkon (topi ala Jawa) iku bendholane nang ngguri, gak nang ngarep.” Artinya blangkon itu benjolannya di belakang, ga bakal ada di depan. Kalimat tadi itu punya makna, kalo penyesalan ga pernah datang di awal, tetapi selalu datang di akhir. Jadi kalo masa muda kita habisin dengan hura-hura doang, tanpa kera macan, alias kerja keras-main cantik, jangan kaget lho, kalo masa tua kita akan penuh dengan kekecewaan. Ya, ga puas ama masa tua, gara-gara sewaktu muda ga kita gunakan sebaik-baiknya, seperti survei yang udah kita ungkap di atas. Nyesel deh...

Sobat, Allah SWT udah ngewanti-wanti kita soal manajemen waktu. Kita diperintahkan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dan kalo kita membiarkan menit demi menit berlalu begitu saja, bersiaplah untuk menjadi orang-orang yang merugi. Di dunia, lebih-lebih di akhirat. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (TQS. Al ’Ashr: 1-3).

Seharusnya, kita sudah mulai berpikir saat ini juga, tentang siapa kita, untuk apa kita di dunia, dan akan kemana kita setelah meninggal nanti. Tentunya ga cukup dengan sekedar menjawab tiga pertanyaan tadi saja. Tapi juga butuh realisasi. Artinya ga cukup, kalo kita hidup di dunia hanya sekedar bersenang-senang aja. Bener sobat, it’s not enough. Kita juga kudu mempersiapkan bekal kita untuk menghadap Allah SWT kelak. Nah, kalo masa muda kita banyak difokusin ke perayaan malam mingguan, mau jadi apa neh di akhirat nanti?

Kebahagiaan Semu

Sobat, perlu kita ingat juga, kalo selama kita di dunia, Allah SWT udah ngasih kita rizki yang ga bisa dihitung. Mulai dari iman, kesehatan, harta, dll. Pokoknya buanyak deh. Nah, soal nikmat yang sedemikian besar, mau kita apakan se..? Apa mau kita sia-siakan begitu saja, atau malah kita manfaatkan dengan hura-hura semata? Semisal harta. Bisa aja berupa uang, perhiasan, HP, komputer dan semacamnya. Mau kita apakan itu semua? Terkadang kita ngerasa, kalo berbagai harta benda yang kita punya, itu murni hasil kerja keras kita. Eling fren, bukan pekerjaan yang bisa njadikan kita kaya, tapi Allah SWT. Buktinya, banyak lho orang yang ga kerja tapi bisa kaya. Contohnya dapat warisan atau undian berhadiah. Dan banyak juga lho, orang yang kerja tapi ga kaya-kaya, kayak kita neh…hehe.

Nah, harta yang ada di sekitar kita itu mau kita belanjakan untuk apa. Kalo harta itu kita gelontorin ke perayaan malam mingguan, semisal pacaran, apel, nonton bioskop, ngeceng dan lain-lain, dijamin, harta kita tadi ga bakal bernilai apa-apa. Alias dapat nilai nol. Apalagi kalo harta yang kita punya tadi dipake untuk perbuatan maksiat pada Allah. Udah ga dapat pahala, beli api neraka. Hy, syerem. Sobat, Allah SWT udah berfirman, “...Dan janganlah kamu menghabur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (TQS. Al-Israa’: 26). Sekiranya, ayat tadi udah cukup memberi wejangan untuk kita supaya bisa ngelola harta kita dengan sebaik-baiknya.

By the way fren, setelah kita ngebahas soal memanfaatkan waktu dan harta yang kita punya, supaya ga sia-sia. Kembali deh kita ke topik malam mingguan. Nah, sobat, banyak temen kita menganggap kesenangan yang didapat dengan jalan bareng pacar, mojok di taman, atau boncengan ama doi, itu adalah kebahagiaan. Sorry, kita kudu bilang itu semua salah besar. Kenapa? Nah, balik aja ke fondasi ajaran Islam. Soal kebahagiaan, Allah SWT sudah memberikan kejelasan di dalam Al Qur’an. Bukan untuk berfoya-foya, berpacaran ataupun malah free seks. Ih amit-amit. Nah tujuan penciptaan kitalah yang bisa ngantarkan diri ini, ke gerbang kebahagiaan yang hakiki. Sobat, Allah SWT sudah berfirman di dalam Al Qur’an, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku.” (TQS. Adz-Dzariyaat: 56). Sehingga, sebenarnya ga ada alasan yang logis, untuk kita menghabiskan malam minggu dengan tradisi yang ga bener. Dan kita yakin kok, kalo sobat semua kembali bertanya ke hati nurani kita masing-masing, tentunya kita ngerti, kalo budaya malam mingguan yang selama ini ada di sekeliling kita, itu bertentangan dengan Islam. Pastinya bukan pahala yang kita dapat, tapi dosa yang gede banget. Berapa lama sih kesenangan yang kita dapat pas malam mingguan, paling banter 3 sampe 4 jam. Itupun belum ditambah ama macetnya jalan, hehe. Dan bandingin deh ama siksa yang kita dapat nanti di akhirat. Waduh, ga sebanding fren. Nelongso lho.

Berpikir Deh, Mulai Sekarang

Sobat, tahu ga, pada tiap-tiap peristiwa, seperti bergantinya siang dan malam serta penciptaan langit dan bumi, kita sebenarnya diajak oleh Allah untuk berpikir betapa agungnya Allah SWT. Dan betapa kecilnya kita (manusia). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali-‘Imron: 190). Nah, kita sebagai seorang manusia yang udah dikasih akal oleh Allah, apalagi sebagai seorang muslim, seharusnya ga akan mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir dulu. Ini benar atau salah. Ini baik atau buruk. Sobat, sudahkah kita mulai berpikir kesana?

Allah SWT berfiman, “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang Telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (TQS. Al Infithaar: 6-7). Lagi-lagi, sama-sama deh kita ingatkan diri kita, supaya ga berbuat semaunya. Dan mulai saat ini, mencoba memperbaiki pribadi.

Jadi sobat, ga ada waktu lagi untuk mengkhususkan malam minggu sebagai malam yang spesial. Apalagi untuk bermaksiat. Malam minggu sebenarnya ga ada bedanya ama malam-malam lainnya. Malam minggu juga sama aja dengan malam Jumat kliwon, hehe. Kita aja yang salah kaprah. Menjadikan hari itu seakan istimewa. Mungkin karena besoknya libur kali ya...Tapi tetep aja, itu semua bukanlah alasan bagi kita untuk durhaka pada Allah SWT. Coba deh, mulai sekarang, kita rubah tradisi ini. Kalo bisa kita hapus sekalian. Ganti dengan hal-hal lain yang lebih bermakna. Berpahala. Dan membuat diri kita makin cerdas. Coba deh, buat acara pengajian, atau menambah ilmu ke-Islam-an kita, pasti jauh lebih asyik. Sebagai penutup, Rasulullah SAW bersabda, “Sebagian dari kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (Al Hadits). Iya kan. So, hapus tradisi malam mingguan. Sepakat!! (red) Sumber:www.islamuda.com

Read More......

Hapus Tradisi Malam Minggu

Aduuh, kalo udah ngomongin malam minggu, seru abis deh jadinya. Kayak lagu yang dibawain Bang Jamal Mirdad “Malam minggu malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran, pacar baru, baru kenalan, kenal di jalan jendral sudirman.” Lain Bang Jamal, lain pula Mas Jikustik. Lagunya yang berlirik, “Malam ini malam minggu, kau menunggu di rumahmu, selamat malam dunia, ku siap tuk berpesta, tunggu aku disana, bertemu oh baby, selamat malam dunia, gairahku berpesta, kita lewati malam, berdua oh baby”.

Emang ga bisa dipungkiri deh, ada sebuah ikatan antara weekend day alias malam minggu dengan jiwa remaja. Jika ada remaja yang ga hang out pas weekend day, siap-siap deh dijadiin bahan gosip ama tetangga sebelah yang kurang kerjaan. Dari anak jadul alias jaman dulu, ga gaul, ga punya gebetan, jomblo, sampe dianggap dukun, soalnya terus aja bertapa di dalam rumah (emang besok keluar angka berapa mas…togel kali…). Hehehe, nah sobat, biasanya di malam minggu ada aja kegiatan seorang remaja, kalo ga ada kegiatan, ya di ada-adain, supaya keliatan sibuk banget. Dari aktifitas sekedar iseng, jalan-jalan, kumpul bareng teman satu kelas, sampe clubbing hingga pagi. Yang penting, di weekend day ada temen yang bisa diajak untuk jalan. Sepertinya ga seru banget deh kalo sabtu malam minggu hanya dihabisin dengan duduk termenung, apalagi di dalam kamar mandi. Hehehe...

Fenomena Sebuah Malam

Sobat, malam minggu adalah malam yang sangat dinanti. Apalagi untuk kita yang masih muda. Pengen ke mall-lah, pengen jalan-jalan lah, ngeceng lah, pokoknya udah bejibun kegiatan, ada di pikiran kita. Hanya untuk menghabiskan waktu berakhir pekan. Memang bener, perayaan weekend susah banget dilupain. Dikarenakan auranya yang begitu lekat di jiwa semua orang, khususon yang masih imut dan muda. Tapi kalo yang sudah bermutu atau bermuka tua, nanti dulu yee, ngantri. Nah sobat, feeling yang dekat inilah yang ngebikin suasana malam minggu sepertinya sangat istimewa. Sebut aja deh, kalo kita inget pacar, maka kita pasti ingat weekend day. Malahan tradisinya, jalan-jalan di seluruh kota, dibuat lebih ramai dari hari biasanya. Di seluruh ruas jalan dipadati oleh manusia yang ingin menikmati weekend day. Taman kota yang sepi pengunjung pada hari biasa, mendadak ramai ketika malam minggu tiba. Yang pasti jarang banget di malam minggu jalanan bakal sepi, kecuali pas BBM naik lagi....hehe sebel.

Ngapain aja seh, di malam minggu? Di id.answer.yahoo.com, buanyak banget remaja yang ngasih masukan, ngapain aja enaknya di malam minggu. Nickname freelho menjawab, “Ya yang asyik, pergi ke warnet, chatting atau cari kenalan baru dong, siapa tahu ada yang cocok.” Gubrak. Sedangkan nickname Bang aji ngasih komen, “Kalo memang merasa jomblo, baeknya cari pasangan / pacar..., asyik kok berlama-lama di internet.” Eit, udah deh, itu kayaknya udah cukup mewakili temen-temen kita yang lain. So pasti jawabannya ga jauh beda. Iya kan.

Sobat, kita mungkin ngerasa hepi ketika weekend tiba. Feeling fun kumpul ama teman se-gank, sekelas atau cuma sekedar nongkrong di pinggir jalan. Kita ngerasa kalo hal tersebut menyenangkan, meski kita tahu, detik demi detik umur kita banyak kebuang sia-sia. Ga sedikit lho, temen kita yang ngehabisin waktu, tenaga dan uang untuk sekedar menikmati malam minggu. Bahkan rela puasa seminggu penuh, karena ngempet pengen apel bareng doi. Ati-ati lho fren, rutinitas yang sia-sia di malam minggu bisa jadi, akan bikin kita nyesel di kemudian hari. Apalagi kalo kita udah tua nanti. Sudah banyak sobat, contoh orang-orang yang ketika tua menyesali masa mudanya. Mereka sebelumnya tidak menggunakan waktu dengan seefisien mungkin. Mereka cenderung ngelepasin waktu yang berharga begitu saja. Nah, berdasarkan survei (tahun 2006) terhadap warga Belgia yang berusia di atas 60 tahun, diperoleh informasi yang cukup mengejutkan. Hampir semua manula tersebut nyesel karena udah mengabaikan masa muda mereka. 72 % - menyesal karena kurang bekerja keras sewaktu masih muda, 67 % - menyesal karena salah memilih profesi atau karier, 63 % - menyesal karena kurang waktu mendidik anak mereka atau menggunakan pola didik yang salah, 58% - menyesal karena kurang berolahraga dan menjaga kesehatan, 11% - menyesal karena tidak memiliki cukup uang. Nah lho..

Ehem, ada pepatah Jawa yang bilang, “Blangkon (topi ala Jawa) iku bendholane nang ngguri, gak nang ngarep.” Artinya blangkon itu benjolannya di belakang, ga bakal ada di depan. Kalimat tadi itu punya makna, kalo penyesalan ga pernah datang di awal, tetapi selalu datang di akhir. Jadi kalo masa muda kita habisin dengan hura-hura doang, tanpa kera macan, alias kerja keras-main cantik, jangan kaget lho, kalo masa tua kita akan penuh dengan kekecewaan. Ya, ga puas ama masa tua, gara-gara sewaktu muda ga kita gunakan sebaik-baiknya, seperti survei yang udah kita ungkap di atas. Nyesel deh...

Sobat, Allah SWT udah ngewanti-wanti kita soal manajemen waktu. Kita diperintahkan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dan kalo kita membiarkan menit demi menit berlalu begitu saja, bersiaplah untuk menjadi orang-orang yang merugi. Di dunia, lebih-lebih di akhirat. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (TQS. Al ’Ashr: 1-3).

Seharusnya, kita sudah mulai berpikir saat ini juga, tentang siapa kita, untuk apa kita di dunia, dan akan kemana kita setelah meninggal nanti. Tentunya ga cukup dengan sekedar menjawab tiga pertanyaan tadi saja. Tapi juga butuh realisasi. Artinya ga cukup, kalo kita hidup di dunia hanya sekedar bersenang-senang aja. Bener sobat, it’s not enough. Kita juga kudu mempersiapkan bekal kita untuk menghadap Allah SWT kelak. Nah, kalo masa muda kita banyak difokusin ke perayaan malam mingguan, mau jadi apa neh di akhirat nanti?

Kebahagiaan Semu

Sobat, perlu kita ingat juga, kalo selama kita di dunia, Allah SWT udah ngasih kita rizki yang ga bisa dihitung. Mulai dari iman, kesehatan, harta, dll. Pokoknya buanyak deh. Nah, soal nikmat yang sedemikian besar, mau kita apakan se..? Apa mau kita sia-siakan begitu saja, atau malah kita manfaatkan dengan hura-hura semata? Semisal harta. Bisa aja berupa uang, perhiasan, HP, komputer dan semacamnya. Mau kita apakan itu semua? Terkadang kita ngerasa, kalo berbagai harta benda yang kita punya, itu murni hasil kerja keras kita. Eling fren, bukan pekerjaan yang bisa njadikan kita kaya, tapi Allah SWT. Buktinya, banyak lho orang yang ga kerja tapi bisa kaya. Contohnya dapat warisan atau undian berhadiah. Dan banyak juga lho, orang yang kerja tapi ga kaya-kaya, kayak kita neh…hehe.

Nah, harta yang ada di sekitar kita itu mau kita belanjakan untuk apa. Kalo harta itu kita gelontorin ke perayaan malam mingguan, semisal pacaran, apel, nonton bioskop, ngeceng dan lain-lain, dijamin, harta kita tadi ga bakal bernilai apa-apa. Alias dapat nilai nol. Apalagi kalo harta yang kita punya tadi dipake untuk perbuatan maksiat pada Allah. Udah ga dapat pahala, beli api neraka. Hy, syerem. Sobat, Allah SWT udah berfirman, “...Dan janganlah kamu menghabur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (TQS. Al-Israa’: 26). Sekiranya, ayat tadi udah cukup memberi wejangan untuk kita supaya bisa ngelola harta kita dengan sebaik-baiknya.

By the way fren, setelah kita ngebahas soal memanfaatkan waktu dan harta yang kita punya, supaya ga sia-sia. Kembali deh kita ke topik malam mingguan. Nah, sobat, banyak temen kita menganggap kesenangan yang didapat dengan jalan bareng pacar, mojok di taman, atau boncengan ama doi, itu adalah kebahagiaan. Sorry, kita kudu bilang itu semua salah besar. Kenapa? Nah, balik aja ke fondasi ajaran Islam. Soal kebahagiaan, Allah SWT sudah memberikan kejelasan di dalam Al Qur’an. Bukan untuk berfoya-foya, berpacaran ataupun malah free seks. Ih amit-amit. Nah tujuan penciptaan kitalah yang bisa ngantarkan diri ini, ke gerbang kebahagiaan yang hakiki. Sobat, Allah SWT sudah berfirman di dalam Al Qur’an, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku.” (TQS. Adz-Dzariyaat: 56). Sehingga, sebenarnya ga ada alasan yang logis, untuk kita menghabiskan malam minggu dengan tradisi yang ga bener. Dan kita yakin kok, kalo sobat semua kembali bertanya ke hati nurani kita masing-masing, tentunya kita ngerti, kalo budaya malam mingguan yang selama ini ada di sekeliling kita, itu bertentangan dengan Islam. Pastinya bukan pahala yang kita dapat, tapi dosa yang gede banget. Berapa lama sih kesenangan yang kita dapat pas malam mingguan, paling banter 3 sampe 4 jam. Itupun belum ditambah ama macetnya jalan, hehe. Dan bandingin deh ama siksa yang kita dapat nanti di akhirat. Waduh, ga sebanding fren. Nelongso lho.

Berpikir Deh, Mulai Sekarang

Sobat, tahu ga, pada tiap-tiap peristiwa, seperti bergantinya siang dan malam serta penciptaan langit dan bumi, kita sebenarnya diajak oleh Allah untuk berpikir betapa agungnya Allah SWT. Dan betapa kecilnya kita (manusia). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali-‘Imron: 190). Nah, kita sebagai seorang manusia yang udah dikasih akal oleh Allah, apalagi sebagai seorang muslim, seharusnya ga akan mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir dulu. Ini benar atau salah. Ini baik atau buruk. Sobat, sudahkah kita mulai berpikir kesana?

Allah SWT berfiman, “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang Telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (TQS. Al Infithaar: 6-7). Lagi-lagi, sama-sama deh kita ingatkan diri kita, supaya ga berbuat semaunya. Dan mulai saat ini, mencoba memperbaiki pribadi.

Jadi sobat, ga ada waktu lagi untuk mengkhususkan malam minggu sebagai malam yang spesial. Apalagi untuk bermaksiat. Malam minggu sebenarnya ga ada bedanya ama malam-malam lainnya. Malam minggu juga sama aja dengan malam Jumat kliwon, hehe. Kita aja yang salah kaprah. Menjadikan hari itu seakan istimewa. Mungkin karena besoknya libur kali ya...Tapi tetep aja, itu semua bukanlah alasan bagi kita untuk durhaka pada Allah SWT. Coba deh, mulai sekarang, kita rubah tradisi ini. Kalo bisa kita hapus sekalian. Ganti dengan hal-hal lain yang lebih bermakna. Berpahala. Dan membuat diri kita makin cerdas. Coba deh, buat acara pengajian, atau menambah ilmu ke-Islam-an kita, pasti jauh lebih asyik. Sebagai penutup, Rasulullah SAW bersabda, “Sebagian dari kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (Al Hadits). Iya kan. So, hapus tradisi malam mingguan. Sepakat!! (red) Sumber:www.islamuda.com

Read More......

Little IDOL

Sobat, kenal kan dengan Rizki P. Egeten (Kiki) asal Manado. Yup dia adalah pemenang Kontes pencari bakat “Idola Cilik 2008” di salah satu stasiun televisi swasta. Kiki berhasil meraih dukungan suara tertinggi dan nyisihkan Angelica Martha Pieters atau Angel di tempat kedua. Ga tanggung-tanggung, 50 juta perak digondol oleh Kiki. Sementara Angel kudu puas dengan hadiah sebesar 30 juta rupiah (kapanlagi.com). Dengan duit sebanyak itu, apa yang diinginkan oleh Kiki? Konon, Kiki ingin membantu ekonomi kedua orang tuanya. Ayahnya yang mengalami kecelakaan di masa lalu, membuatnya ga mampu bekerja lagi, sedang ibunya hanyalah seorang karyawan toko. Begitulah pendapat Kiki di salah satu situs di internet. Selanjutnya, situs tadi menulis bahwa, “ungkapan tulus Kiki bisa salah satu bukti kalau Idola Cilik tidak hanya diasumsikan sebagai eksploitasi anak–anak semata.” (rcti.tv). Masa sih...?

Kesuksesan pihak tivi swasta dalam perhelatan Idola Cilik, membuat keberadaan Idola Cilik 2 di waktu dekat bakal digeber kembali. Ribuan adek-adek kita sekarang pada ngantri untuk ikut audisi. Target penyelenggara tentunya bocah usia 7 hingga 12 tahun. Dengan umur yang masih bau jahe (bosen dong kencur terus...), ga susah bila pihak produser ingin mengeruk rupiah sebanyak-banyaknya. Sebut saja kontes Da’i Cilik, MamaMia, dan Kecil-kecil Cabe Rawit. Karena kontes bakat untuk remaja dan dewasa udah mulai pudar popularitasnya. Alias udah sampe ambang jenuh. Apalagi keinginan untuk nampang di tivi, jadi terkenal, banyak uang, dan bergelar idola adalah jawaban seragam yang diberikan oleh adik-adik kita yang begitu bernafsu ngikut audisi. Bisa juga lho ini gara-gara desakan dan dukungan ortunya. Apalagi kalo matanya udah berwarna hijau bin gila duit. By the way, dibalik itu semua, apa memang bener kontes semacam ini memang bertujuan mulia? Apa memang bener pencarian bakat instan ini dibolehkan dalam Islam? Trus gimana positif negatifnya dengan perkembangan jiwa anak? Nah..sobat, islamuda kali ini bakal ngupas tuntas soal ini. So jangan kemana-mana ya, tetep aja selidik buletin yang makin manis ini. (yee..narsis).

Mau jadi Idola Kecil?

Sobat, kalo diantara kita ada yang punya adek kecil, pasti ngerti banget gimana karakter dan sifat mereka. Yup, anak kecil itu ibarat kertas putih yang polos. Gampang diisi, ditulisi, dan diwarnai oleh lingkungan tempat diri bernaung. Termasuk oleh keluarga, sebagai ekosistem terkecil mereka. Keinginan ortu yang menggebu untuk meraup rupiah, bisa jadi blunder yang amat berbahaya bagi para bocah. Sedewasa apapun mereka untuk dipaksa, baik dandanan, tampilan maupun lagu yang dinyanyikan, mereka masih anak-anak yang butuh asupan positif bagi pribadinya. Sebut saja salah satu finalis Idola Cilik, Gabriel Stevent Damanik asal Batam, sedewasa apapun dia dipaksa untuk tampil di panggung, tetep saja Gabriel masih suka disuapin oleh ibunya saat makan dan masih suka mengisap jempol ketika tidur. Hehe. Sayangnya banyak ortu yang ga sadar akan hal ini. Tentang perlunya edukasi yang jernih bagi sang anak. Boro-boro ortu, pihak produser malah jauh lebih parah. Emang gue pikirin, katanya. Yang penting uang mengalir ke kantong. Padahal, kalo dari awal adek-adek kita dibentuk demi tujuan mendulang uang dan kekayaan, ujung-ujungnya nanti bakal muncul the lost generation, alias generasi yang hilang. Negeri ini bakal kebingungan nyari sosok buah hati yang punya visi dan idealisme. Dan juga jangan heran, bakal tercipta generasi idola yang berperilaku bejat seperti Sylvester Stalonne, Madonna dan Lindsay Lohan. Nah, sobat, bukankah sekarang ini semua udah mulai nampak?

Ga salah kalo kita telaah perkataan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi. Beliau mengungkapkan kalo pelaku industri televisi dan orang tua sering ga menyadari telah melakukan eksploitasi terhadap anak, lewat dunia hiburan di televisi. Karena sudah ada unsur instruksi dan tekanan psikologis, hal itu disebut eksploitasi dan penyalahgunaan hak anak. Kak Seto mencontohkan kontes bakat menyanyi dan sinetron yang marak di sejumlah stasiun televisi saat ini. Anak-anak tersebut tampil dengan riasan wajah yang tebal, baju seperti orang dewasa, jam siaran yang melebihi tiga jam, serta menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang ditentukan pihak produsernya. Beliau menambahkan, kalo itu semua demi kepentingan televisi dan orang tua, bukan keinginan anak-anak. Padahal anak-anak berhak untuk bisa bermain dengan gembira, tanpa ada tekanan atau paksaan harus begini dan begitu (kompas.com). Nah, ngomong-ngomong soal eksploitasi anak, seringkali kita memandang rendah (maaf) para pengemis di jalan yang menggunakan sang anak sebagai ujung tombak meneguk rupiah. Emang sih, apa yang mereka lakukan ga bisa dibenarkan. Meski paling banter, anak mereka dalam sehari dapat uang sekitar 20 ribu perak. Bandingkan dengan kontes semacam idola cilik. Ga tahu tuh berapa rupiah yang bisa mereka dapatkan untuk orang tua mereka. Aduh-aduh, eksploitasi gede-gedean nih.

Hal ini juga diiyakan oleh Mbak Ria Fariana, penulis buku No Man No Pain dan Mutiara. Dia menulis bahwa, orang tua seperti ini tak lagi memikirkan kebutuhan anak. Kebutuhan asasi yang dipunyai seorang anak adalah kebutuhan bermain dan berkembang dengan maksimal dalam koridor yang positif. Seorang anak ga akan berkembang dengan alami dan maksimal, bila sejak kecil ia sudah berkenalan dengan sejumlah make-up, dandanan meniru orang dewasa, aktivitas bejibun seputar konser sana-sini, pemotretan dan syuting sana-sini, dll (gaulislam.com).

Sekilas, kontes semacam itu ibarat mencari emas di tengah hamparan pasir. Sebut saja kisah Kiki yang ingin membantu ekonomi kedua ortunya, sepintas mampu membuat audience mengharu biru. Padahal ini semua malah bikin bias perhelatan konser ini. Kiki yang ber-idol ria adalah sebuah problem, sedang ortunya yang ga bisa memberi nafkah adalah masalah yang lain. Kedua hal ini ga bisa disatukan. Kudu dipisah. Karena solusinya memang berbeda. Sayangnya, dua sudut pandang ini dikerucutkan jadi satu oleh produser. Akhirnya, yang bener jadi salah dan yang salah seakan menjadi sebuah kebenaran. Jangan lupa, seorang anak, apalagi yang belum dewasa, ga punya tanggung jawab untuk menafkahi kedua ortunya, sebaliknya, orang tualah yang punya kewajiban besar untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Titik. Masih banyak lho, cara lain yang lebih mulia. Semisal mendidik anak untuk jadi wirausahawan.atau enterpreneur.

Sobat, orang tua yang sadar akan tanggung jawabnya, bakal berpikir ribuan kali untuk mengikuti alur eksploitasi ini. Kita bisa ambil contoh dari Butet Trivyantini, ibunda dari Ratnakanya Annisa Pinandita (Kanya). Dia menilai anak akan kehilangan masa bermain dan belajar dengan adanya jadwal syuting yang ketat, plus bermacam aturan yang ditetapkan oleh produser. “Anak-anak yang tampil dalam kontes bakat kehilangan keceriaan khas anak-anak yang polos dan wajar. Mereka terlihat lebih dewasa dari usia yang sesungguhnya karena riasan, kostum, dan lagu-lagu yang dibawakan semuanya seperti orang dewasa. Saya tidak mau Kanya seperti itu.” Nah, buat para ortu, masih mau sang anak kehilangan masa kecilnya?

Hasil Kapitalisme

Sobat, ga bisa dipungkiri lagi, kalo semua ini akibat cara berpikir ala kapitalis yang udah menghinggapi kita semua. Ga ada lagi yang namanya nilai kemanusiaan, pengertian dan pemahaman untuk perkembangan pribadi anak. Semua udah sirna dengan silaunya gemericik uang. Yup, cuma karena uang, masa depan ribuan anak bisa dikorbankan. Ya, hanya industri hiburan yang diuntungkan, bukan yang lain. Demikian juga yang dirasakan Ronal Surapradja. Dia ngerasa sangat sulit melawan industri televisi saat ini. Karena industri hiburan menentukan apa dan siapa yang boleh tampil. Sedangkan pelaku di dunia hiburan seperti dia ataupun anak-anak yang bergelut di industri entertainment, ga punya pilihan lain kecuali menuruti keinginan industri televisi. “Kita ini siapa? Mau melawan industri yang besar? Tidak bisa. Memang itu yang diinginkan dan itu yang laku dijual,” kata Ronal. Dia juga mengatakan, kalo seseorang udah memasuki bisnis hiburan di televisi, ga banyak yang bisa memegang teguh idealismenya (kompas.com). Tuh kan bikin was-was.

Ga bisa kita bayangin, gimana nasib adik-adik kita di masa mendatang, kalo yang ada di benak mereka hanyalah sekedar popularitas semu dan gelimangnya uang. So, ga salah bila hasil jerih payah media untuk mencetak generasi-generasi gila harta bakal berimbas kepada pribadi mereka esok. Kalo mereka jadi pemimpin, ga usah nyesel ya, karena mereka hanya akan memikirkan kesenangan pribadi dibanding penderitaan rakyat. Hehe, siapa yang kesindir tuh..?

Nah, inilah yang sekarang jadi pe-er kita bersama. Bukan cuma islamuda doang lho. Kenapa, karena semua pihak bertanggung jawab. Khususnya institusi terkecil anak-anak, yaitu keluarga. Pendidikan anak adalah keutamaan dalam keluarga. Insya Allah, hal ini bakal kita bahas di akhir analisa. Tapi jangan dikira negara lepas tangan dalam problem besar ini. Justru negara punya andil terbesar dalam terselenggaranya program-program tadi. Paling tidak begitulah ungkap Sekretaris Jendral Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. Dia menyebutkan kalo memang perlu adanya kesadaran dari pelaku industri televisi, bahwa mereka juga memikul tanggung jawab edukasi dalam tayangannya. “Orang tua juga harus sadar bahwa anak-anak memiliki hak bermain dan belajar seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Kalau sudah terjadi eksploitasi anak, maka itu sudah termasuk tindakan pidana,” katanya.
Jadi jelas deh, aturan kudu ditegakkan, bukan sekedar pepesan kosong. Dan alangkah mulianya kalo kita mau melirik ke aturan yang tegas dan konkrit dari Allah SWT, bukan yang lain.

Kedudukan Anak dalam Islam

Sobat, tadi kita sudah janji untuk ngebahas gimana sih porsi si kecil dalam Islam. Hal ini sangat penting lho, walaupun ada diantara kita yang belum berkeluarga. Paling tidak, ini bisa jadi investasi pengetahuan yang super berharga. Sobat, orang tua dalam Islam punya tanggung jawab yang gede untuk mendidik sang anak. Sampai-sampai Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(TQS.At-Tahrim:6)

Banyak ahli tafsir yang memberikan penjelasan pada ayat tersebut. Salah satunya adalah Al-‘Allamah Ibnu Katsir yang menukil penjelasan para ahli. Diantaranya Ali r.a., ketika menjelaskan kalimat “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” berkata, “Didiklah mereka dan ajarlah mereka”. Ibnu Abbas berkata, “Taatlah kepada Allah, jauhilah perbuatan maksiat dan perintahkan keluargamu untuk selalu dzikir (ingat kepada Allah), maka Allah akan menyelamatkanmu dari api neraka.” Qotadah berkata, “Hendaknya engkau perintahkan keluargamu untuk mentaati Allah, engkau larang mereka berbuat maksiat, engkau layani mereka dengan ketentuan-ketentuan Allah dan engkau perintahkan serta engkau bantu mereka untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat maka celalah dan hardiklah mereka.” Adl-Dlahak dan Muqatil berkata, “Setiap orang Islam berkewajiban untuk mengajar keluarganya baik kerabatnya maupun pembantunya tentang apa-apa yang diwajibkan oleh Allah dari apa-apa yang dilarang-Nya.”

Sedangkan menurut Sayyid Sabiq, memelihara diri dan keluarga termasuk anak dari neraka adalah dengan pendidikan dan pengajaran, kemudian memperhatikan perkembangan mereka agar berakhlak mulia dan menunjukkan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat dan membahagiakan.

Jadi jelas sudah, pendidikan bagi anak adalah mutlak sebuah kewajiban bagi orang tua. Pendidikan yang islami tentunya. Malahan, bagi orang tua yang mendidik anaknya dengan tekun dan Islami, Allah SWT telah menjanjikan surga. Ya, surga. Allah lho yang janji. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang diantara kamu yang memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan kemudian mendidik mereka dengan sebaik-baiknya kecuali ia akan masuk surga.” (HR.At-Tirmidzy dari Abu Said Al-Hudri). Jelas kan....(dy).Sumber:www.islamuda.com

Read More......

Dukun Cyber

Sobat, ngomong-ngomong soal ramal-meramal, apalagi yang berbau horoskop so pasti bukan hal baru. Macam-macam lho bentuknya. Ada yang merujuk pada primbon yang kesebut juga ramalan jawa. Malahan ada lagi yang katanya lebih modern, seperti perbintangan berupa astrologi atau zodiac. Semuanya punya ujung serba kira-kira dan asal tebak semata. Ga ada yang pasti. Tapi masih ada aja yang punya alasan untuk percaya. Salah satunya, karena ramalan ini punya patokan. Umumnya, ramalan dikait-kaitkan dengan hari dimana saat itu kita lahir ke dunia. Bisa tanggalnya, jamnya, harinya, weton-nya atau nama rumah sakitnya. Hehe, wah itu mah bukan ngeramal mas, tapi ngira-ngira bayarnya berapa.

By the way, subway, di Jakarta ada busway, ramalan udah bukan barang baru lagi dong. Sliwar-sliwer di telinga kita, ya ga? Malahan, di zaman Tukul yang kenal laptop ini, hampir tiap hari kita bakal jumpai hal-hal yang berbau ramalan. Dan opininya selalu ditawarin ama kita. Saking canggihnya nih, sekarang dukun ga lagi nangkring di gua, atau bertapa di bawah kolong jembatan, eit salah ding, di bawah air terjun. Tapi mereka udah berani nongol di tivi. Seperti selebritis dong! Benar. Akhirnya profesi dukunisasi ini, masuk ke dunia digital dan media elektronik. Dukun-dukun pada blak-blakan ngobral jasa ramal mereka untuk menambah koceknya yang lagi kena imbas krismon. Mereka pada pamer gelar, mulai S1, S2 sampe profesor. Pengen tahu gimana contohnya mereka mempopulerkan diri? Gini potongan iklannya, “Anda tidak cocok kerja di air, anda lebih cocok di darat”. “Ngapain mbah? Tidur di tengah jalan...?”. “Bukan, karena anda buaya darat.” he...he.. familiar banget kan penggalan kalimat barusan. So pasti, itu juga upaya dari para peramal untuk mempromosikan diri, tampang dan titel mereka. Mungkin mau ngikut bursa capres kali..hehe. Nah, kalo dulu kita cuma ngelihat ramalan hanya ada di media-media cetak, sekarang ga lagi. Segala perantara informasi udah mereka akses, mulai televisi, radio, internet bahkan lewat sms-pun juga bisa. Semisal “Ketik REG Spasi dukun ngawur”, kirim ke kotak sampah terdekat.

Trus, sebagai remaja Islam, gimana sih kita menyikapi tawaran-tawaran yang berbau klenik yang semakin hari semakin membludak? Gimana juga Islam memandang dunia perdukunan? Nah Sobat, kalo pengen tahu jawabannya, jangan dilipet-lipet buat bungkus lepet. Maksud loe? Iya, baca buletin ini ampe kelar, sekalian tancepin pemahaman Islam ke otak kita. Siap...!

History of Ramalan

Ramalan ada banyak macamnya. Meski tujuannya cuma satu, yaitu ilmu kirologi alias kira-kira. Salah satu contohnya yaitu ramalan melalui horoskop. Ramalan ini membuat orang yang diramal seakan-akan mampu melihat masa depan dirinya sendiri. Dengan berdasar prediksi waktu kelahiran. Kata horoskop sendiri diserap dari bahasa Yunani, "horoskopos" yang berarti melihat jam. Penjelasannya kayak gini. Konon dulunya, melalui jam waktu kelahiran seseorang, orang-orang Yunani kuno mampu menentukan nasib dan masa depan orang tadi. Itu soal horoskop. Ada juga ramalan lain tapi juga identik. Seakan-akan mampu melihat masa depan seseorang. Patokan ini didapat dari zodiac yang dia miliki, yang sesuai dengan tanggal lahir mereka. Dari tanggal tadi, bisa ditentukan lambang zodiac antara orang yang satu dengan orang yang lain. Seperti libra, leo, sagitarius dan lain-lain. Katanya, melalui lambang tadi, terungkap pula sifat, kepribadian, plus jalan hidupnya (ramalanhoroskop/wikipedia.com). Ramalan ini dikenal dengan nama astrologi atau ilmu perbintangan. Kata astrologi, juga diambil dari sejarah Yunani. Menurut astrologi, nasib seseorang bisa diramal berdasar posisi bintang di langit. Ngomong-ngomong, astrologi sudah dikenal sejak jaman Babilonia. Sekitar 4.000 tahun yang lampau. Sedangkan saat ini, ada tiga macam astrologi yang cukup dikenal; yaitu astrologi barat (zodiac), astrologi Tionghoa (shio) dan astrologi India (Iyotisha).

Sobat, ramalan shio atau ilmu astrologi yang berasal dari Tionghoa, ga jauh beda dengan ramalan-ramalan yang lain. Sekedar pengetahuan aja, bahwa astrologi Tionghoa adalah astrologi yang tertua. Walau mereka menggunakan hewan sebagai lambang, tapi tetap ada kaitannya dengan ilmu perbintangan. Lima elemen utama dari ramalan ini adalah Venus = metal (emas), Jupiter = kayu, Mercury = air, Mars = api dan Saturn = tanah. Seni ramalan yang sesungguhnya dalam astrologi Tionghoa lebih dikenal dengan sebutan Zi Wei Dou Shu (Ramalan Bintang Ungu). Ingat ya, ini sekedar tahu aja.

Sobat, dari penjelasan tadi terungkap sudah. Kalo ilmu ramal-meramal tadi ga hanya ada di western area. Yang mengejutkan, di jazirah arab ternyata ga jauh beda. Sebelum kegemilangan Islam bermula di sana, Jazirah arab-pun sudah mengenal dan menggunakan ilmu ramalan ini ribuan tahun yang lalu. Mereka menyebutnya dengan istilah nujum atau tenun (penenun) alias tukang sihir.

Karena hampir di seluruh dunia udah kenal dengan apa yang namanya ramalan ribuan tahun silam, maka di negeri kita juga terkena imbasnya. Eit, kayak bursa efek aja. Bahkan, ilmu ramalan dengan kitab primbon serta buku-buku pedoman ramalan yang lain, sampe sekarang tetap dilestarikan. Malahan udah merambah dunia digital dan cyber. Sayang seribu sayang, dengan perkembangan zaman yang udah modern, dan Al Qur’an yang udah komplit, penduduk negeri kita masih buanyak aja yang percaya ama perkiraan yang muncul dari ramalan ini. Ck..ck..ck. Padahal kalo kita percaya ama konsep serba kira-kira dalam astrologi dan horoskop, jelas syirik lho. Alias menyekutukan Allah SWT. Dan yang sangat kita takutkan, dosa karena syirik, ga bakal bisa diampuni selamanya. Jelas ini sebuah problem yang sangat besar. Karena iman alias aqidah umat udah terancam.

Trus kita kudu gimana? Katanya beriman pada Allah, percaya ama takdir, lha kenapa masih aja manteng ke ramalan? Ada yang bilang, “Kita ga percaya ama zodiac kok, kita cuma sekedar baca aja. Asyik lho” Selain itu ada lagi yang ngomong, “Lho ramalan kan ga salah, kita kan mengantisipasi segala kemungkinan yang buruk, supaya ga terjadi.” Oke, stop-stop. Saatnya kita menjelaskan hukumnya dengan sedetail yang kita bisa, supaya ga ada lagi keraguan akan hukumnya. Oke deh…lanjut bacanya ya…

Ramal-meramal dalam Islam

“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka (mendapat petunjuk).” (QS. An Nahl : 16)

Sesuatu yang masih mentah dan kotor ga bakalan mau kita makan. Bikin sakit. Demikian juga dengan informasi yang masih mentah dan kotor. Tanpa disaring dan dipikir matang dulu, jiwa kita juga bisa sakit. Kita bakal salah memahami sesuatu, malahan kita bisa memvonis yang benar itu salah dan yang salah itu betul. Yang lebih parah lagi, kalo pintu hati kita udah ketutup. Jangankan perkataan para ulama, Hadits bahkan Al-Qura’n-pun ga bakal mau kita terima dengan lapang dada.

Coba hayo.., apa yang dapat kita serap dari ayat diatas tadi? Kalo kita ngambil mentah-mentah, pasti kita akan berargumen kalo ramalan bintang alias zodiac itu boleh-boleh saja. Malah kudu dilaksanain. Soalnya ayat tadi menyebutkan seperti itu. Hus...tunggu dulu fren...jangan asbun dong. Ayat tersebut memiliki maksud agar manusia mengetahui arah jalan bukan masa depan dengan mengetahui letak bintang-bintang yang bertaburan di langit. Masih ingat dong ama pelajaran Geografi. Seperti rasi bintang biduk untuk petunjuk arah utara dan rasi bintang pari sebagai pedoman arah selatan. Ayat tadi bukan untuk mempercayai ramalan melalui bintang maupun shio. Lagipula, banyak Hadits Rasulullah SAW yang mengharamkan dan melarang mempelajari ilmu nujum (perbintangan) dengan tujuan yang dilarang syariat. Salah satunya, “Barangsiapa mempelajari satu cabang dari cabang ilmu nujum (perbintangan) sungguh ia telah mempelajari satu cabang ilmu sihir … .” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas).

Tuh kan, mempelajarinya aja ga boleh, apalagi kita yang minta diramal. Jelas-jelas lebih ga boleh dong. Banyak juga dalil yang menjelaskan pelarangan tersebut seperti firman Allah SWT, “(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya.” (QS. Al Jin : 26-27)

Begitu juga di dalam sabda Rasulullah yang berbunyi, “Barangsiapa yang mendatangi dukun dan menanyakan tentang sesuatu lalu membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya 40 malam.” (HR. Muslim dari sebagian istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). Masih kurang? Nih ada lagi.., “Barangsiapa yang mendatangi dukun (peramal) dan membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia telah ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.” (HR. Abu Dawud)

Ga hanya itu. Karena semakin maraknya tayangan televisi maupun siaran radio yang menawarkan ramalan, MUI pun ngerasa kudu turun tangan. Ketua MUI Pusat KH. Ma’ruf Amin mengeluarkan fatwa haramnya siaran televisi yang mempublikasikan ramalan dan hal gaib. ”Acara ramalan dan setan yang banyak di tv termasuk haram karena menyesatkan bagi umat.” Ujar KH. Ma’ruf Amin (TEMPO Interaktif). Ga cukup hanya di pusat, Ketua MUI Pekanbaru Bapak Ilyas Huspi mengatakan, ”Dalam Al Quran sangat jelas sekali bahwa mempercayai ramalan hukumnya syrik. Jadi umat Islam jangan terpengaruh dengan berbagai upaya ramalan seseorang, termasuk ramalan Mama Lauren itu. Itu jelas ramalan yang menyesatkan sekaligus sebagai bentuk upaya pendangkalan akidah kita,” bahkan beliau membentuk Tim Sadarkan Warga Percaya Ramalan. (detiknews.com)

Nah loh! jika kita sudah jelas kan gimana pandangan Islam tentang hal-hal yang berbau klenik. Pasti sekarang kita udah tahu jawabannya, karena sudah banyak dalil yang menjelaskan keharaman ramal-meramal tersebut. Hanya saja sampai sejauh mana, keimanan kita untuk ngebendung arus ramalisme.

Ingat Fren..

Sobat kita di ciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk ciptaan yang selalu tergantung padaNya. Maka wajib bagi kita untuk memposisikan diri kita dihadapan Allah SWT sebagai hamba bukan sebagai penentangnya. Ramalan, apapun bentuknya. Akan bernilai dosa dalam pandangan Islam. So, jauhi dan hindari. Dengan kata lain kita kudu menjalankan segala apa yang diperintahkan-Nya, dan meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan-Nya. Jangan lupa, kita juga harus terus berusaha mempelajari Islam dan menyebarluaskannya dengan dakwah. Mulai kapan? Sekarang dong...Sampai kapan? Hingga ajal menjemput kita. (bang).sumber :www.islamuda.com

Read More......

Pahlawan Vs Penghianat

Buletin Gaul Islam
10 November 2008 - 09:35
gaulislam edisi 055/tahun ke-2 (12 Dzulqa’idah 1429 H/10 Nopember 2008)

Bulan Nopember gini emang paling asik ngomongin tentang pahlawan. Soalnya tiap tanggal 10 Nopember, bangsa Indonesia biasanya suka memperingati momen itu sebagai hari pahlawan. Pahlawan kemerdekaan pembela bangsa dan negara pun dipuja-puja dan disanjung. Bahkan khas negara nasionalis yang suka mengadakan upacara bendera, mengheningkan cipta bagi arwah para pahlawan juga menjadi menu wajib.
Terlepas dari lirik lagu mengheningkan cipta yang nyerempet pemujaan terhadap para pahlawan secara berlebihan, pada faktanya jasa para pahlawan itu diabadikan cuma sebatas monumen dan museum, nggak lebih. Kasihan banget ya? Hmm…
Pahlawan bangsa dipujaBangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kamu semua pasti pernah dengar ungkapan tersebut ya. Alhasil, penghargaan jasa para pahlawan ini diwujudkan dalam bentuk materi berupa patung, monumen, prasasti dan semacamnya. Semua hal tersebut memberi kesan heroik agar bisa ditiru oleh generasi setelahnya.
Upacara tiap hari Senin dan hari-hari besar nasional pun digelar, dalam rangka mengingat jasa para pahlawan dan menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan generasi penerus. Bagi mereka yang mangkir upacara karena satu dan lain alasan, bakal dituduh nggak berjiwa nasionalis en nggak menghargai perjuangan para pahlawan. Tapi sesungguhnya, apakah bisa kesetiaan nasionalisme diukur dari rajin nggaknya seseorang ikut upacara bendera? Nggak banget. Coba deh kamu pikir dan rasa dalam-dalam (idih dalam, emangnya gali sumur!)
Wajah-wajah para pahlawan dicetak dalam bentuk poster kemudian ditempel di dinding-dinding kelas mulai SD sampai SMA. Dianggapnya dengan cara seperti ini jasa para pahlawan itu sudah terbayar lunas. Padahal faktanya generasi muda kita termasuk kamu-kamu semua belum tentu juga mengenal mereka yang dipajang itu. Kenal saja nggak apalagi meneladani perjuangannya. Maka tak heran di kelas saya dulu ketika zaman SMA, foto-foto para pahlawan itu diganti dengan foto-foto penghuni kelas terutama mereka yang memang kepingin sok ngartis. Dan uniknya, tak ada satu guru pun yang protes. Mungkin dianggapnya lebih kreatif karena mereka berpose ibaratnya pahlawan dengan warna hitam putih seolah-olah gambarnya diambil tempoe doeoloe.
Tidak itu saja, pahlawan juga banyak tuh yang dibuatkan patungnya. Bukannya menghormati dan menghargai, para pahlawan ini riskan dipuja-puja berlebihan sehingga menghilangkan esensi makna kepahlawanan itu sendiri. Mereka toh tak pernah meminta untuk dipuja dan dipuji sedemikian rupa. Mereka hanya ingin agar perjuangan yang telah dilakukannya diteruskan dengan sebaik-baiknya, bukan malah dinodai dengan menggadaikan negeri.
Pahlawan bangsa dikhianatiCoba kamu perhatikan bagaimana para pahlawan bangsa ini dikhianati oleh mereka yang mengaku sok nasionalis. Waduh, jangan keburu merinding bulu betis kamu ya, ini bukan soal gawat-gawatan, tapi biar kamu nyadar aja gitu. Nyantai aja. Ok?
Perjuangan para pahlawan demi memerdekakan rakyat negeri ini dari penjajahan bangsa asing, penuh dengan pengorbanan darah, harta, airmata bahkan nyawa. Mereka tidak rela harga diri sebagai bangsa dinjak-injak harkat dan martabatnya, sehingga tak ada jalan lain kecuali berjuang. Dan ketika akhirnya perjuangan itu telah membuahkan hasil, ternyata pengkhianat bangsa mengambil alih peranan. Dimulai dari kampanye agar rakyat memilihnya, para pengkhianat ini menggadaikan negeri Indonesia dengan harga murah melalui UU. Di antara UU itu adalah UU migas, UU kelistrikan, dan banyak UU lainnya yang intinya adalah ketundukan terhadap kekuatan asing yang jelas-jelas berniat menjajah Indonesia dalam wajah baru. Nah, lho, kamu kudu ngeh tuh. Jangan cuma ngeh hasil pertandingan sepakbola aja atau hapal lagu-lagu anyar dari seleb idolamu. Catet, yo!
Para pengkhianat ini bersembunyi di balik jas rapi dan berdasi yang kerjanya cuma rapat basa-basi. Sedikit ada peluang untuk memperkaya diri, maka korupsi pun dilakoni. Nggak peduli lagi deh sama rakyat yang mati kelaparan, yang penting keluarga sendiri aman dan sejahtera. Bolehlah sekali-kali terjun ke lapangan berbaur dengan rakyat miskin asal dengan syarat disorot kamera demi keuntungan memperoleh suara bila pemilu datang. Halah!
Itulah gambaran Indonesia kini dengan para pejabat yang sok mengaku berjiwa nasionalis dan sok menasihati pentingnya menghargai jasa para pahlawan. Di saat yang sama mereka pula yang menjual bangsa ini pada asing, melakukan korupsi besar-besaran di seluruh lapisan jabatan, menggusur rakyat tak berdaya dan diganti dengan mal-mal modal asing, dll. Hehehe.. jangan sport jantung dulu dengan gaya tulisan ini ye! Belum maksimal kok. Ini baru narik tali gas dikit aja.
Sungguh kasihan para pahlawan kita, jerih payahnya disalahgunakan oleh para pejabat oportunis itu. Darah dan nyawanya ternyata cuma seharga bangunan fisik gedung-gedung bertingkat atas nama pembangunan. Di manakah rakyat kecil yang dulu selalu dibela oleh para pahlawan itu? Ternyata rakyat yang dicintai oleh para pahlawan itu tinggal di kolong jembatan, berlari-lari dikejar satpol PP, bayi-bayi yang busung lapar, mereka yang tak berdaya dihempas kemiskinan struktural alias tak bisa kaya karena dibuat miskin oleh negara.
Ayo, hargai jasa pahlawan!Menghargai jasa pahlawan bukan cuma bisa dilafalkan di mulut atau hanya berbentuk seremonial belaka dengan mengheningkan cipta pada upacara bendera. Menghargai jasa para pahlawan adalah pertama mula meluruskan sejarah bangsa yang banyak dibelokkan demi kepentingan golongan tertentu saja, utamanya sih yang sedang berkuasa pada saat sejarah ditulis. Sudah saatnya kebohongan kepada publik mulai dibongkar dan kebenaran ditunjukkan ujud nyatanya.
Bung Tomo dengan suaranya yang menggelegar dan menggugah semangat berjuang arek Suroboyo, tidak semata-mata melakukan itu semua demi membela bangsa dan negara saja. Lebih dari itu, mengusir penjajah dari bumi tempatnya berpijak adalah sebuah kewajiban dan kesadarannya dalam berakidah Islam. Jika bukan karena dorongan Islam, mengapa pula Bung Tomo bersusah-payah memekikkan takbir sebelum menyerang musuh? Tul nggak?
Pahlawan yang lain demikian pula. Mulai dari nama-nama sekaliber Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak Dien, Pattimura, Sultan Hasanuddin, Fatahillah dll berjuang melawan penjajah bukan semata-mata membela bangsa dan negara. Sejatinya, Islam adalah motivator utama ketika akidah dan syariah yang saat itu menjadi peraturan kesultanan-kesultanan Islam di nusantara, diinjak-injak oleh para imperialis Belanda dan ‘balad korawanya’ macam Portugis dan Inggris. Hal inilah yang seringkali disembunyikan dari kita, seolah-olah kesan yang ditimbulkan adalah para pahlawan itu sangat nasionalis sekali perjuangannya. Nggak banget deh!
Pada faktanya, para pahlawan itu tak mengenal istilah nasionalisme ketika itu. Mereka berjuang karena dorongan akidah Islam karena penjajah mulai menginjak-injak harga diri mereka sebagai manusia. Parahnya lagi, para penjajah juga bertugas sebagai misionaris dan berusaha memurtadkan penduduk nusantara yang notabene muslim untuk menjadi Kristen. Jadi, sudah saatnya jalannya sejarah yang nggak bener itu untuk kembali diluruskan. Agar jasa para pahlawan itu akan terlihat jelas sehingga generasi muda mampu menghargainya dengan bingkai sejarah kejujuran.
Langkah kedua untuk menghargai jasa para pahlawan adalah menjalankan roda pemerintahan negeri ini dengan baik dan benar. Baik artinya adalah dikelola oleh mereka yang memang orang baik di bidangnya. Bukan hanya profesional namun juga berahlak mulia sehingga jauh dari niat dan tindakan korupsi ataupun hal-hal yang merugikan rakyat. Benar artinya adalah negeri ini dikelola dengan aturan yang benar. Aturan yang benar ini sudah diberikan panduannya oleh Yang Mahamemiliki Kebenaran berupa syariat Islam dalam segenap aspek kehidupan, bukan cuma kalo mati dan kawinan saja Islam baru dipake.
Langkah selanjutnya adalah menjadikan sejarah itu sebagai cermin untuk melangkah ke depan. Sejarah kelam jangan ditutupi namun jadikan pembelajaran agar jangan terulang. Misal sejarah kelam dihapuskannya kalimat ‘dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya’ dari sila pertama Pancasila. Lalu sejarah kelam Tanjung Priok 1984 yaitu dibunuhnya para ulama yang menolak azas tunggal oleh rezim orde baru. Nggak perlu deh ditutup-tutupi lagi karena toh yang namanya bangkai pasti akan tercium juga. Betul ndak?
Hal yang sama berlaku juga dalam sejarah emas Indonesia yaitu berani meluruskan bengkoknya sejarah kebangkitan nasional. Budi Utomo yang jelas-jelas menolak persatuan Indonesia dan menolak pemakaian bahasa Indonesia karena para pimpinannya lebih memilih bahasa Jawa dan Belanda, tidak lagi pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Syarikat Islam (SI)-lah yang pertama kali menyadarkan pentingnya persatuan nasional melalui Kongres Nasional Central SI di Bandung. Bila pemerintah berani mengambil langkah kejujuran ini, maka so pasti generasi muda kita nggak akan pernah hidup lagi dalam kebohongan sejarah, insya Allah.
Jadilah pahlawan, bukan pengkhianatYup, jangan jadi pengkhianat karena tempat yang pantas buat mereka cuma di neraka. Ih…takut banget kan? Pahlawan bukan cuma sebatas skala nasional, tapi jadilah pahlawan yang lintas batas sebuah bangsa yang sempit. Pahlawan internasional dengan Islam saja yang layak mendapat pengorbanan kita, bukan nusa dan bangsa dalam bingkai nasionalisme. Bila Islam yang kita bela, sudah tentu nusa dan bangsa termasuk di dalamnya. Tapi bila membela nusa dan bangsa, belum tentu kita masuk surga karena sungguh Rasulullah melarang kita untuk terpecah-pecah karena kesukuan dan kebangsaan.
Muslim di Malaysia, di China, Amerika, Arab, Inggris, Palestina, di mana pun mereka berada, mereka adalah saudara kita. Jangan sampai kita menjadi pahlawan bangsa dengan membunuh saudara seiman, naudzhubillah. Jadi tak ada gunanya bertengkar karena hal sepele dengan negara tetangga seperti masalah perbatasan atau kesenian. Musuh sebenarnya kita adalah kapitalisme yang diemban oleh Amerika dan sekutunya untuk dipaksakan pada kita. Bila kita lengah dan menjadi pengikutnya, maka sungguh kita telah menjadi pengkhianat sejati. Pengkhianat bagi negeri, rakyat sendiri, hati nurani, dan tentunya mengkhianati Islam.
Semua ada di tangan kita untuk memilih, akan menjadi pahlawan ataukah pengkhianat? Dan semua perbuatan sudah pasti akan ada pertanggungjawaban masing-masing.So, tancapkan dalam hatimu bahwa kita adalah generasi baru yang akan menghargai jasa pahlawan tidak sebatas simbol saja, tapi dalam tataran nyata dengan Islam saja sebagai pedoman hidup bernegara bagi seluruh kaum muslimin. Bagaimana, setuju kan? Harus itu! [ria: riafariana@yahoo.com]

Read More......