Pengikut

Tampilkan postingan dengan label Berita Dalam Negri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Dalam Negri. Tampilkan semua postingan

NU dan Muhammadiyah Tolak RUU Ormas

Dua organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menolak pembahasan rancangan undang-undang (RUU) tentang Ormas. Sebab, RUU itu dianggap telah keluar dari tujuan awal naskah akademiknya. Ketua PBNU Imam Aziz di Sleman, Senin (25/3), mengatakan RUU itu awalnya dibuat untuk menghormati hak asasi manusia dalam kebebasan berserikat dan berorganisasi. “Tapi kemudian tersesat ke lembah belantara yang ruwet, terjerembab kepada pengaturan yang tidak jelas di mana definisi mengenai ormas terlalu luas dan banyak kerancuan,” kata Aziz.

Dia menegaskan, NU sudah menolak terhadap RUU tersebut. “Bahasa halusnya menunda, namun intinya sama, kita juga menolak,” terang Imam Aziz. Di beberapa pasal, lanjut Imam, ada berbagai kerancuan yang luar biasa dan menjebak. Seperti pada pasal pelarangan. Dalam RUU Ormas yang lagi dibahas, ormas dilarang melakukan pelecehan atau penistaan terhadap agama. “Sebuah organisasi yang seharusnya dilindungi tapi bisa ditolak karena adanya pasal penistaan tadi. Itu akan membuat kerancuan luar biasa dan menjebak,” jelasnya. Anggota Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah Zuly Qodir juga menyayangkan RUU Ormas yang sudah masuk dalam program legislasi nasional (prolegnas). Menurutnya, RUU Ormas malah akan menjadi undang-undang yang membelenggu kebebasan berorganisasi. “Dalam RUU ini, semua harus memakai izin, harus berkumpul juga berizin. Masak mau berkumpul dan ngaji di kampung harus minta izin,” kata Zuly Qodir dan mendukung penuh penolakan RUU Ormas. Ormas, lanjut Zuly sangat setuju ada aturan yang mengatur keberadaan ormas. Namun aturan tersebut jangan sampai menindas ormas, terlebih ormas yang sudah ada seperti NU dan Muhammadiyah. Peneliti yang juga sosiolog dari UGM Ari Sujito mengatakan, arahan dari RUU Ormas sangat birokratis. Dan menduga RUU ini sangat tergesa-gesa masuk ke prolegnas. Sehingga ia menegaskan RUU tersebut harus ditolak. “Karena kalau ditetapkan, masyarakat sipil tidak punya ruang gerak dalam berorganisasi dan berserikat, sehingga harus ditolak,” kata Ari. (metrotvnews.com, 25/3)

Read More......

Pemerintah Baru Bencana Baru bagi Indonesia


mediaumat.com. Dua hari setelah pelantikan presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono, Hizbut Tahrir Indonesia menyambutnya dengan pertanyaan Pemerintah Baru ‘Bencana’ Baru bagi Indonesia? yang dikemas dalam acara talkshow Halqoh Islam dan Peradaban, Kamis (22/10) siang di Jakarta.

“Jangan pakai tanda kutip dong kata bencananya,” ujar Pengamat Kebijakan Publik Ichsanuddin Noorsy salah satu pembicara dalam acara talkshow itu. Karena memang pemerintahan SBY jilid II ini akan membawa bencana seperti lima tahun sebelumnya. Hal itu ditandai dengan dipilihnya kembali sosok menteri yang setia dan konsisten dengan kebijakan neoliberal.



Pembicara lain yang meyakini bahwa pemerintahan baru ini tidak akan membawa berkah bahkan akan menimbulkan bencana lebih buruk lagi adalah Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazir, Kepala Jurusan Ilmu Politik UMJ Siswanto Abu Alya, Pengamat Politik LIPI Lili Romli dan Jurubicara HTI Ismail Yusanto.

Marie Elka Pangestu, dia ahli neolibnya perdagangan, sedangkan di bidang fiskal Sri Mulyani. Nah bakal lebih ngeri lagi sekarang menteri pertahanannya Purnomo Yusgiantoro. “Karena kan selama ini Purnomo telah sukses membawa neolib dalam dunia pertambangan, jangan-jangan nanti di dunia pertahanan di-begituin juga,” tandas Fuad.

Sedangkan Siswanto menegaskan nuansa bagi-bagi kue kekuasaan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II ini sangat kental ketimbang kapabilitasnya, “Itu terlihat dari bagaimana SBY menempatkan orang-orang dari parpol koalisinya dan siapa saja yang telah berjasa mengumpulkan suara buat SBY, saat pilpres lalu” tandasnya.

Semua dirangkul, bahkan lawan politiknya, Golkar misalnya, turut mendapatkan kursi. Maka hilanglah kekritisan parpol. PDIP yang tidak mendapatkan jatah pun tidak punya nyali untuk bersikap sebagai oposisi. Gerindra dan Hanura, suaranya terlalu kecil jadi tidak ada kekuatan. “Ini tidak sehat karena membuat demokrasi menjadi beku!” tandas Lili.

Ismail pun menegaskan selain pemerintahan DPR-nya pun kental dengan nuansa liberalisme. Hal itu terbukti dengan diproduksinya UU yang sangat liberal diantaranya adalah UU Ketenagalistrikan dan UU Kesehatan. Semua UU liberal tersebut sangat bertentangan dengan syariah.

Jelaslah itu semua akan membawa bencana.Karena merupakan suatu kemutlakan apabila aturan yang dibuat tidak berdasarkan kepada syariah maka akan menimbulkan mudharat atau bencana. “Namun apakah kita akan membiarkan bencana itu berlangsung sampai lima tahun ke depan?” tanya Ismail.

Ismail pun mengutip hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan dua ciri utama kehidupan liberal yang mengundang azab Allah. “Apabila riba dan zina telah nyata-nyata dipraktekkan masyarakat maka sesungguhnya penduduk negeri itu telah menghalalkan dirinya untuk mendapatkan azab Allah” ujar Ismail mengutip hadits.

Oleh karena diperlukan perjuangan penegakan syariah Islam secara politik dan ideologis. Serta menjelaskan sejelas-jelasnya ke tengah-tengah masyarakat bahwa syariah Islam bukanlah ancaman tetapi satu-satunya solusi untuk menolak azab Allah SWT. “Justru dengan sistem yang berlaku seperti sekarang inilah azab itu akan selalu menghantam menduduk yang mayoritas Muslim ini.” pungkas Ismail.[] joko prasetyo

Read More......

Mubahalah Irena Handono VS Diki Candra


Mubahalah antara Irena Handono dengan Diki Candra difasilitasi oleh Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) yang diketuai KH Athian Ali M Da’i dan disaksikan ratusan umat Islam yang hadir di Masjid Al-Fajri, Cijagra, Bandung.


Ahad, 4 Juli 2009. Ratusan umat Islam dari berbagai wilayah di Bandung, Jawa Barat, tumpah ruah memadati Masjid Al-Fajri, Cijagra. Sejak pagi hari, masjid yang juga markas Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) itu sudah sesak oleh jamaah yang ingin menyaksikan proses mubahalah antara Ustadzah Irena Handono dengan Diki Candra.


Irena Handono adalah mantan biarawati yang sudah menjadi muallaf dan kini memimpin lembaga Irena Center serta aktif sebagai pendakwah. Irena bersyahadat di Masjid Al-Falah Subaraya, di hadapan Ketua MUI Jawa Timur almarhum KH Misbach pada tahun 1983. Sedangkan Diki Candra adalah aktivis Forum ARIMATEA (Advokasi, Rehabilitasi, Imunisasi, Aqidah, Terpadu, Efektif, dan Aktual), sebuah lembaga anti pemurtadan yang namanya kian mencorong belakangan ini.

Kasus mubahalah ini bermula dari pernyataan seorang bernama Imam Safari yang mengaku melihat Irena Handono berpakaian biarawati dan berkalung salib di sebuah gereja di Singapura pada tahun 2007. Pengakuan Imam Safari ini ditulis dalam sebuah surat pernyataan tertanggal 13 September 2008 di atas materai 6000, dengan saksi-saksi: Diki Candra, Nasrul Soeoed, Djoko Hardjanto, Khairul Ghazi, Dzulkifli Nur, dan Jeffry.

Dalam surat pernyataan tersebut, alamat Imam Safari dan gereja yang dimaksud sengaja ditutup/diblok sehingga tak terlihat. Begitu juga dengan keterangan waktu kapan Imam Safari melihat Irena Handono juga tak disebutkan dalam surat pernyataan tersebut.”Ini yang membuat kami bertanya-tanya. Kenapa ditutup-tutupi. Kenapa sampai saat ini tidak disebutkan di gereja mana, kapan, dia melihat ibu Irena,” ujar Sally Setianingsih, aktivis Irena Center.

Setelah surat pernyataan itu dibuat, pada tanggal 21 Februari 2009, Diki Candra memposting satu artikel berjudul “Laporan Hasil Investigasi terhadap Hj. Irena Handono” yang dimuat di website http://forum-arimatea.blogspot.com dan ditandatangani oleh Ketua Umum Forum Arimatea, Habib Muhsin Ahmad Alatas Lc dan Sekjen Diki Candra.”Untuk alasan keamanan dan investigasi yang mendalam, sengaja memang sebagian surat pernyataan itu ditutup,” terang Diki Candra.

Pihak Irena menyayangkan langkah Diki Candra yang memposting laporan tersebut tanpa melakukan tabayyun (konfirmasi). Apalagi, blog tersebut dibaca secara luas oleh masyarakat.”Kenapa tidak melakukan tabayyun dulu? Dalam Islam, kalau dapat berita dari orang yang tidak jelas, harus tabayyun. Apalagi, mengutip pernyataan Habib Muhsin Ahmad Alatas di Majalah Sabili edisi 23 th XVI, Imam Safari yang mengaku melihat saya di sebuah gereja di Singapura adalah kader Islam Liberal dari kalangan NU yang sering bersama Ketua Umum PDS Ruyandi Hutasoit,” kata Irena Handono.

Irena yang kini aktif memberikan berbagai ceramah tentang kristologi dan mengkonter gerakan pemurtadan menambahkan,”berdasarkan pernyataan dari Habib Muhsin Ahmad Alatas ini maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa Imam Safari ini adalah orang fasik. Kembali kepada QS. Al-Hujurat ayat 6, di sini dijelaskan bahwa bila orang fasik membawa suatu berita, maka harus diperiksa dengan teliti si pembawa berita ini,” terang Irena dalam rilis tertulis yang dibagikan kepada pers.

Irena menegaskan, jika Diki mengerti tentang perintah Allah terkait dengan sebuah kesaksian, seharusnya Imam Safari yang mengaku telah melihat dirinya di sebuah gereja di Singapura, dituntut untuk mengajukan tiga orang saksi lainnya yang melihat bersama-sama dan pada waktu bersamaan terkait tuduhan tersebut.”Saya heran dengan sikap Diki. Apalah saya ini yang cuma seorang nenek tua, dituduh sedemikian rupa,” ujar Irena lirih, dalam konferensi Pers di Crowne Plaza, Rabu (1/7).

Menanggapi pernyataan Irena, Diki Candra dalam rilis yang disebarkan kepada media massa mengatakan,”jika Irena cs menyatakan seharusnya ARIMATEA tabayyun langsung ke Irena Handono, maka dalam menghadapi laporan sejenis ini ARIMATEA sudah dan akan melakukan cara tabayyun yang sebenarnya, yaitu menggali dulu informasi, kemudian datang ke Irena Handono untuk meminta klarifikasi atas pengaduan dan data-data yang telah ARIMATEA temukan,” ungkapnya.

Terkait soal berita di blog ARIMATEA, Diki berkilah,”tidak terpikir oleh Sekjen ARIMATEA bahwa blog tersebut akan dibuka oleh semua pihak, selain oleh teman-teman ARIMATEA daerah. Jadi tidak benar tujuan blog tersebut dengan tujuan yang direncanakan untuk mendiskreditkan/pembunuhan karakter Irena Handono,”terang Diki dalam rilis yang dibagikan pada konferensi Pers di Rumah Makan Handayani, Matraman, Jakarta, Selasa (30/6).

Merasa apa yang disebarluaskan oleh ARIMATEA sebagai fitnah tanpa bukti-bukti yang jelas, maka pada 7 Mei 2009 dengan didampingi kuasa hukumnya, secara resmi Irena Handono melaporkan Diki Candra dkk ke Mabes Polri atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik.”Kita menempuh jalur hukum, karena fitnah yang disebarkan Diki sudah mengganggu aktivitas dakwah saya,” tegas Irena. Tiga hari setelah Irena mengajukan laporan ke Mabes Polri, artikel Hasil Investigasi terhadap Irena Handono dihapus dari blog ARIMATEA.

Selain soal pernyataan Imam Safari yang tersebar luas, dalam jumpa pers pada Selasa (30/6), Diki Candra juga mengatakan bahwa dirinya mendapat informasi bahwa Irena Handono memiliki tiga paspor dan tiga Kartu Tanda Penduduk.”Ini sedang kita investigasi terus,” kata Diki yang mengaku akan melakukan investigasi ke imigrasi dan ke gereja di Singapura pada bulan Juli ini.

Benarkah Irena memiliki tiga paspor dan tiga KTP? ”Ini fitnah. Kalau dia mengatakan Irena memiliki tiga paspor, berarti dia telah menuduh pihak imigrasi melakukan pemalsuan. Ini bisa kena kasus hukum lagi,” ujar Muhammad Ihsan, kuasa hukum Irena. “Silakan dibuktikan. Jangan belum benar infonya sudah disebar ke publik! Apa yang dia katakan selalu katanya-katanya, tidak ada faktanya,” tegas Ihsan.

Dalam jumpa pers Irena Center yang dihadiri oleh KH Sulaiman Zachawerus (Garda Umat Islam), KH A Cholil Ridwan (MUI), Nurdiati Akma (Muslimah Peduli Umat), dan tokoh Islam lainnya, Irena Handono menegaskan dirinya sangat heran dengan apa yang dituduhkan oleh Diki Candra. Apalagi, kata Irena, sebelumnya Diki juga pernah bermasalah dengan Tim FAKTA (Forum Anti Pemurtadan) yang dipimpin oleh Abu Deedat Syihabuddin.

Mubahalah pun Terjadi

KH Athian Ali M Dai bisa jadi orang yang sangat tegang ketika mubahalah antara Irena Handono vs Diki Candra terjadi. Maklum, kiai yang cukup disegani di kalangan umat Islam Bandung ini diminta oleh kedua belah pihak untuk menjadi mediator dalam proses mubahalah.”Sungguh ini sangat berat bagi saya. Selama dakwah saya, baru kali ini saya memimpin dan menyaksikan proses mubahalah. Pertanggungjawabannya di hadapan Allah sangat besar. Karena sebagai mediator, saya harus berlaku seadil-adilnya,” ujar Kiai Athian dengan nada suara bergetar.

Sebelum mubahalah berlangsung, dihadapan ratusan jamaah, Kiai Athian menjelaskan kronologis peristiwa, termasuk menelaah setiap informasi terkait kasus ini. Dari kedua belah pihak, Athian mendapatkan data-data persoalan ini. Ia juga sudah mempertemukan Irena dan Diki sebelumnya agar bisa tercapai ishlah.”Saran untuk tercapainya Ishlah sudah kita ajukan. Tapi tidak tercapai. Karena siapa yang salah dan siapa yang benar tidak bisa dibuktikan oleh manusia, maka mubahalah pun menjadi pilihan terakhir,” kata Kiai yang juga pernah menjadi mediator ishlah antara Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Ustadz Ja’far Umar Thalib ini.”Mubahalah terjadi agar Allah menunjukan siapa orang munafik di sekeliling kita,” tegasnya.

Awalnya, Kiai Athian menyatakan bahwa mubahalah terjadi antara Irena Handono dengan Imam Safari dan Diki Candra. Namun, sampai acara mubahalah akan dilangsungkan, Imam Safari yang telah menyebarkan berita negatif tentang Irena tak juga menunjukan batang hidungnya.”Karena Imam Safari tidak datang, maka benarlah dugaan selama ini bahwa Imam Safari itu makhluk ghaib,” kata Athian.

Padahal, baik kepada Athian maupun dihadapan pers, sebelumnya Imam Safari pernah menyatakan bahwa dirinya siap bermubahalah.”Bahkan dia pernah mengatakan, kalau ada sumpah yang lebih di atas mubahalah pun dia siap,” ujar Athian yang terlihat kecewa dengan ketidakhadiran Imam Safari.

Alhasil, beberapa saat sebelum adzan Zuhur, mubahalah pun berlangsung. Jamaah yang sudah semakin sesak larut dalam ketegangan dan haru. Irena Handono duduk di hadapan hadirin dengan membawa anak-anak, suami, menantu, dan cucu.”Sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi, saya membawa keluarga saya. Termasuk cucu saya yang baru berumur satu bulan. Saya siap mengundang laknat Allah jika saya berdusta,” tegas Irena sebelum sumpah mubahalah dibacakan. Sedangkan Diki Candra yang juga duduk dihadapan hadirin, hanya membawa satu orang istrinya saja dan beberapa pengurus ARIMATEA.

Dua teks mubahalah pun dibagikan oleh Kiai Athian kepada kedua belah pihak. Diki Candra mendapat kesempatan pertama untuk membacakan. Sebelum teks mubahalah dibacakan, Diki yang dalam pernyataan persnya menyatakan siap bermubahalah terhadap ”apa yang ia ketahui” meminta waktu kepada Kiai Athian untuk mengoreksi teks tersebut. Namun, Kiai Athian tetap meminta Diki membacakan teks tersebut, tanpa koreksi.

Diki membacakan teks mubahalah dengan didahului bersumpah atas nama Allah dan memohon laknat jika dirinya berdusta. Begitupun Irena Handono yang mendapat giliran selanjutnya menyatakan hal serupa. Saat pembacaan mubahalah, suasana hening. Jamaah yang hadir nampak tegang. Usai keduanya membacakan sumpah mubahalah, pekik takbir pun menggema di masjid tersebut.

KH A Cholil Ridwan yang hadir sebagai utusan Majelis Ulama Indonesia menutup acara dengan doa yang mengharukan. Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, Kiai Cholil memanjatkan doa agar Allah SWT menunjukan kebenaran dan menjauhkan umat Islam dari orang-orang munafik. Sebelumnya, Kiai Cholil menyatakan, mubahalah adalah solusi final untuk mengungkap kebenaran.

Mubahalah berasal dari kata bahlah atau buhlah yang bermakna kutukan atau laknat. Mubahalah menurut istilah adalah dua pihak yang saling memohon dan berdoa kepada Allah supaya menurunkan laknat dan membinasakan pihak yang bathil atau mendustai kebenaran. Mubahalah berlangsung antar kedua belah pihak dengan membawa keluarga masing-masing dan disaksikan oleh kaum muslimin.

Peristiwa mubahalah pernah dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap pendeta dari Najran pada tahun ke-9 Hijriyah, seperti disebutkan dalam surah Ali-Imran ayat 61.”Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu. Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita meminta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Di Indonesia, pada tahun 1930-an, A Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis) juga pernah menantang kelompok Ahmadiyah untuk bermubahalah. Namun tantangan mubahalah itu tak pernah berani dilakukan oleh Ahmadiyah sampai saat ini. Meski begitu, nabi palsu yang juga pentolan Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad pernah melakukan mubahalah yang berakibat pada tewasnya Mirza Ghulam Ahmad dalam keadaan sakit parah di tempat buang hajat.

Menyikapi kasus Irena Handono vs Diki Candra, sudah seharusnya umat Islam mengambil pelajaran, bahwa setiap tuduhan yang dilakukan terhadap siapa pun, apalagi terhadap aktivis dakwah, harus dibuktikan dengan standar syariat. Jika pembuktian manusia tidak bisa dilakukan, maka mubahalah adalah pilihan terakhir untuk menghilangkan fitnah dan menunjukkan siapa yang berdusta. Wallahu a’lam. (Arta/voa-Islam)

http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2009/07/07/154/mubahalah-irena-handono-vs-diki-candra/

Read More......

FUUI Pasilitasi "Mubahallah" Irena Handono-Diki Chandra

Antara - Minggu, Juli 5
Bandung (ANTARA) - Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) memfasilitasi pelaksanaan "Mubahallah" antara Ustadzah Irena Handono dengan Ketua Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah Terpadu Efektif dan Aktual, Diki Chandra, Sabtu.
ADVERTISEMENT

Pelaksanaan cara muhaballah yang dipimpin oleh Ketua FUUI KH Athian Ali Muhammad Dai berlangsung di Mesjid Al-Fazri Jalan Cijagra Kota Bandung.


Mubahallah merupakat perangkat sumpah tertinggi dalam Islam dan pekerjaan dalam syariat Islam yang dapat dilaksanakan untuk memperoleh kebenaran ketika tak satupun bisa membuktikannya.

Momen sumpah terberat yang jarang terjadi itu dilakukan atas permintaan Ny Irena yang merasa difitnah oleh Diki Chandra dan Imam Safari yang melaporkan ustadzah itu memakai pakaian lengkap dengan kalung bersimbol agama yang dianut sebelumnya oleh wanita itu.

Keduanya, Ny Irene dan Diki Chandra mengucapkan sumpah "Demi Allah" untuk meminta laknat Allah SWT bila salah satu dari mereka salah.

Namun, Imam Safari yang dianggap menjadi pelapor kasus itu tidak hadir dalam acara mubahallah itu. Meski demikian Ny Irena tetap menyatakan siap "berhadapan" atau mubahallah dengan Diki.

Hadir pada acara pemutusan hukum secara Islam itu Pengurus MUI dan Ketua Dewan Dakwah Islam KH Khalil Ridwan. Peristiwa langka itu disaksikan sekitar seribu jemaah Mesjid Al-Fajri.

Suasana mubahallah berlangsung sangat khidmat, hening dan menegangkan, Ny Irena didampingi oleh suami, tiga anak dan dua orang cucunya.

Sedangkan Diki Chandra didampingi oleh istri dan pengurus Arimatea, tanpa kehadiran anak. Pria itu membacakan sumpahnya lebih awal. Sebelumnya ia meminta perubahan redaksional sumpah terberat dalam hidupnya itu.

Disusul kemudian oleh sumpah oleh Ny Irena Handoyo yang saat itu mengenakan pakaian berwarna coklat muda dengan suara yang lantang.

Pelaksanaan mubahallah itu dilakukan sekitar satu setengah jam mulai pukul 10.30 WIB berakhir pukul 12.15 WIB. Proses Mubahallah itu diakhiri dengan shalat Dzuhur berjamaah.

"Mubahallah ini merupakan jalan terakhir yang diambil secara Islam untuk menyelesaikan sebuah isu fitnah dimana masing-masing tidak mau mengakui kesalahannya. Ini sumpah terberat namun harus dilakukan untuk menyelamatkan umat," kata KH Athian M Ali Dai.

Ia mengakui peristiwa mubahallah ini merupakan yang pertama kali ditemuinya selama hidupnya. Ia mengaku terpaksa memfasilitasi mubahallah itu demi ketenangan umat dan menyelesaikan kasus yang ada.

"Kami sudah meminta Diki menghadirkan dalam acara Mubahallah ini, namun ternyata tidak ada. Saya tidak yakin Imam Safari itu ada atau tidak ada, semuanya Allah yang maha mengetahui," kata Athian.

Sementara itu Ny Irena seusai proses mubahallah itu, Ny Irena menyatakan lega karena bebannya selama ini sudah diselesaikan melalui mubahallah.

"Sekarang saya lega," kata Ny Irena.

Sementara Diki seusai prosesi itu memilih berdiskusi dengan beberapa pengurus Arematea dan bersama jamaah Masji Al Fajri.

Sementara itu Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia, Kholil Ridwan menyebutkan Mubahallah peristiwa langka yang pernah terjadi di tanah air.

"Jika ada yang berbohong maka yang bersangkutan dan seluruh keluarganya akan mendapat kutukan dari Allah SWT," kata Kholil Ridwan.

Hal itu, kata Kholil untuk meneguhkan pencarian kebenaran yang hakiki. Namun di lain pihak ia mendukung proses hukum yang tengah ditempuh dalam kasus dugaan fitnah dan pembunuhan karakter itu.

"Mubahallah adalah cara sesuai Islam, silakan saja proses hukum dilanjutkan karena itu hak masing-masing pihak," kata Kholil.

Sementara itu, Ketua FUUI, KH Athian berharap peristiwa langka mubahallah ini dilakukan hanya untuk mencari kebenaran hakiki dan hanya dilakukan untuk masalah-masalah berat.

"Terus terang baru sekali ini saya menyaksikannya, meski berat kami berkewajiban memfasilitasi mubahallah ini," kata KH Athian menambahkan.(sumber:http://irena-handono.blogspot.com/2009/07/fuui-fasilitasi-mubahallah-irena.html)

Read More......

Irena Handono Mengajak Diki Candra Mubahalah


Konflik antara Diki Candra dari lembaga Arimatea dengan Irena Handono sepertinya tak lagi bisa dibendung. Setelah kemarin kubu Diki melangsungkan konfrensi pers, hari ini (Rabu 1/7) kubu Irena yang mengundang wartawan untuk menyampaikan klarifikasi sekaligus penegasan soal langkah Irena untuk mengajak kubu Diki melakukan mubahalah.

Mubahalah, menurut KH Khalil Ridwan yang turut hadir di acara ini, merupakan salah satu sunnah Rasulullah saw. ketika dua pihak yang berseteru ingin menentukan siapa yang benar. Dan masing-masing pihak menyertakan keluarga mereka untuk siap mendapat murka Allah berupa adzabNya jika ternyata berada di pihak yang salah. “Ini pernah dilakukan Rasulullah terhadap dua orang nashara dari Najran yang merasa bahwa Rasul salah dalam soal agama.

Ternyata, dua orang Najran itu mengundurkan diri karena takut,” jelas Ustadz Khalil yang juga salah seorang ketua Majelis Ulama Indonesia. Dari pihak Diki, seperti yang tergambar dalam rekaman video yang diputar di acara Irena ini, ajakan mubahalah ini siap untuk ia ikuti.


Sedianya, mubahalah akan dilangsungkan pada tanggal 4 Juli mendatang di salah satu masjid di Bandung. Siap sebagai pengarah acara mubahalah ini adalah Ustadz Athian Ali yang sudah dikonfirmasi oleh pihak Irena Handono.

Kronologi konflik antara Diki Candra dengan Irena Handono yang keduanya sama-sama bergerak dalam lembaga kristologi dengan istitusi yang berbeda bermula dari surat pernyataan seseorang yang bernama Imam Safari. Pada tanggal 13 September 2008, Imam menandatangani sebuah surat pernyataan yang menyatakan bahwa ia melihat Irena Handono keluar dari sebuah gereja di Singapura dan mengenakan busana layaknya seorang biarawati. Dan surat pernyataan ini pun dipublikasi di website Arimatea.

Sejak itu, berbagai pihak termasuk salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia melakukan konfirmasi kepada Irena. Apa benar Irena murtad? Bahkan, tuduhan tidak sekedar itu, malah berkembang menjadi intrik-intrik. Bahwa, Irena dituduh sebagai penyusup dan mempunyai sebuah misi untuk sengaja dimasukkan ke dalam kelompok Islam oleh pihak-pihak tertentu.

Akibat isu ini, beberapa mualaf yang memang sangat gandrung dengan ceramah-ceramah Irena Handono mulai mengalami goncangan. Bahkan, dua orang remaja yang baru masuk Islam, karena menemukan isu ini, dilaporkan kembali ke agama lama mereka alias murtad. “Akibat isu ini, saya dapat kabar bahwa dua remaja kembali ke agama lama mereka,” ujar Irena dengan nada miris.

Setelah seratus lima puluh hari pihak Irena diam terhadap tuduhan dan isu ini, akhirnya pada Mei lalu, tim pengacara Irena mengadukan Diki Candra selaku Sekjen Lembaga Arimatea dan seseorang yang bernama Imam Safari ke pihak polisi atas tuduhan pencemaran nama baik.

Sebelumnya, beberapa pihak dari lembaga dakwah Islam juga melakukan tabayun dan ishlah terhadap kedua belah pihak. Sayangnya, upaya ini mengalami jalan buntu. Atas nasihat dari beberapa ustadz, di antaranya KH Khalil Ridwan dan Athian Ali, akhirnya jalan mubahalah ini diambil.

Beberapa tokoh hadir di acara konferensi pers oleh pihak Irena Handono untuk memberikan kesaksian tentang pribadi Irena yang tidak mungkin seperti yang dituduhkan oleh isu tersebut. Di antara mereka Ningrum Maurice dari Daarut Tauhid, Nurdiyati Akma dari Muslimah Peduli Umat, Ratna Zuhry dari Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam, Kemal Faisal Ferik dari Komunitas Cinta Ilahi, dan KH Sulaiman Zachawerus dari Garda Umat Islam. mnh (eramuslim)
Irena Handono Laporkan Diki Candra Cs ke Mabes Polri
Irena Handono didampingi Tim Pembela hukumnya mengajukan laporan pengaduan (LP) tindak pidana Fitnah yang dilakukan oleh Diki Candra Cs. Di rencanakan Irena bersama pengacaranya akan melapor ke mabes Polri siang nanti (7/5) Pukul 13.00 WIB.

Diki akan di tuntut dengan beberapa pasal tentang Menista dan Mencemarkan nama baik, sebagaimana dikualifisir melanggar Pasal 310 Ayat (1), Ayat (2) KUHP Jo. Pasal 311 KUHP Jo. Pasal 335 KUHP Jo. Pasal 55 KUHP Jo. Pasal 27 Ayat (3), Pasal 28 Ayat (2) UU No.11 Tahun 2008, tentang informasi dan transaksi elektronik. Tindakan-tindakan fitnah ini patut diduga dilakukan bersama-sama secara sistematis oleh Imam Safari, Diki Candra, Nasrul S, Djoko Hardjanto, Khairul G, Dzulkifli M, Jeffry dan Habib Muchsin Ahmad Alatas dari lembaga ARIMATEA.

Fitnah tersebut di buat dengan kalimat, "Bahwa saya telah melihat Ustazah Irene Handono di suatu gereja di Singapura dengan berpakaian biarawati dan mengenakan kalung salib serta asesoris pakaian biarawati Katholik. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa dia adalah ibu Irene Handono" dalam surat pernyataan Imam Safari tertanggal 13 September 2008 yang dipersaksikan dan ditanda-tangani oleh enam orang dari Arimatea, yakni: Diki Candra, Nasrul S, Djoko Hardjanto, Khairul G, Dzulkifli M, Jeffry.

Menurut Irene, Perbuatan-perbuatan fitnah tersebut berakibat merusak kepercayaan dan menghancurkan, reputasi dan nama baik. Tindakan ini juga bertendensi mengadu domba dan memfitnah para aktifis dan tokoh Islam lainnya sehingga berpotensi memecah belah ukhuwah Islam yang sangat merugikan umat Islam. Tindakan ini mirip tindakan Snouch Hurgronje yang menyusup dan mengkhianati masyarakat Islam Aceh di zaman penjajahan Belanda dulu.

sumber : http://suara-islam.com/index.php/Nasional/Irena-Handono-


Read More......

Buku Ilusi Negara, LibForAll Sudutkan Islam


Buku yang berjudul Ilusi Negara Islam yang menceritakan tentang ekspansi gerakan Islam transnasional di Indonesia, akan diperbanyak di empat negara di dunia yakni Turki, Arab Saudi, Inggris dan Amerika Serikat.

"Saya menilai buku ini sangat bagus karena menceritakan Islam yang sebenarnya," kata C Holland Taylor, pendiri-bersama LibForAll Fundation, saat menghadiri peluncuran buka hasil editorial mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama sejumlah pimpinan Nahdatul Ulama (NU) mantan pimpinan Muhammadyah, di Jakarta, Sabtu malam.

Menurut Holland Taylor, buku Ilusi Islam Transnasional itu, adalah suatu ediologi Islam yang membahas tentang kehidupan Islam melalui perjuangan jihad yang diartikan bahwa Islam dengan jihad bukan merupakan kekerasan tetapi Jihad itu adalah usaha yang dilaksanakan oleh kaum muslim dengan cara yang benar tanpa melalui kekerasan.


Buku setebal 321 halaman diterbitkan PT Desantara Utama Media yang bekerja sama dengan LibForAll Fundation, sebuah lembaga non-pemerintah yang memperjuangkan terwujudnya kedamaian, kebebasan, dan toleransi di seluruh dunia yang diilhami oleh warisan tradisi dan budaya bangsa Indonesia.

Ia mengatakan buku yang terbitkan dengan melibatkan sejumlah ulama terkemuka di Indonesia seperti, KH Ahmad Safii Maarif (mantan ketua Muhammadyah), KH Mustofa Bisri dan Azyumarrdi Azra dan Romo Franz Magnis Suseno sebagai salah satu penasihat LibForAll.

Sebagai gambaran LibForAll Foundation, sebuah lembaga nirlaba bermarkas di Indonesia dan AS yang bekerja untuk melawan ekstremisme keagamaan dan menolak penggunaan perjuangan jihad yang dianggap terorisme.

Peluncuran buku tentang Ilusi Negara Islam itu, juga dihadir mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno, Cawapres dari Partai Golkar Wiranto dan mantan Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tanjung.


Mengenal LibForAll

Muslimin terbesar dunia menjadi tujuan utama gerakan penghancur agama ini. Berkedok sebagai Islam Pluralis, Islam Liberalis, Islam Damai, Islam Kultural, dan kedok-kedok lainnya, mereka mencoba mendangkalkan agama Allah ini.

Selain membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL), mereka juga melakukan promosi di dunia maya. Salah satunya, mereka membuat situs www.libforall.com yang awalnya (2003) hanya berbahasa Inggris namun beberapa waktu lalu telah pula diluncurkan versi bahasa Indonesia. Tujuannya apa lagi jika bukan untuk memperluas cakupan “jualannya”.

Di halaman pertama kita akan disambut dengan kalimat “LibForAll Foundation adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan dunia yang damai berdasarkan nilai-nilai luhur agama di bawah bimbingan dan perlindungan Yang Mulia KH. Abdurrahman Wahid dan para ulama lain.”

Masih di halaman yang sama, Associated Press menulis bahwa CEO LibFor All, Holland Taylor, tengah berupaya menghimpun tokoh-tokoh Liberalis dan Pluralis ber-KTP Islam di seluruh dunia untuk membentuk satu jaringan “Muslim Moderat”. Inilah kalimatnya: “Pendiri-bersama LibForAll C. Holland Taylor sedang menghubungkan para pemimpin Muslim moderat dalam sebuah jaringan mercusuar di dalam dunia Islam yang akan mempromosikan toleransi dan kebebasan berpikir dan beribadah. ”

“Kebebasan beribadah” di sini diartikan sebagai “Walau Anda Muslim, Anda bebas memilih mau sholat apa tidak. Itu terserah kepada Anda” Sebab, bukan rahasia umum lagi jika kelompok ini orang-orangnya sering tidak sholat. Sholahuddin Wahid, adik kandung Gus Dur, pernah berkata dalam satu acara, “Saya tahu betul, Gus Dur itu tidak sholat. ”

imageYang kelihatan konyol, terdapat satu kalimat di halaman “Kultur Pop” yang penuh dihiasi tulisan dan gambar band Dewa-19 pimpinan Ahmad Dhani—yang beribu kandung seorang Yahudi-Jerman—yang berbunyi: Kata-kata “Laskar Jihad” berarti “The Warriors of Jihad.” Ia juga merupakan nama sebuah kelompok radikal yang telah bertanggung jawab atas meninggalnya ribuan umat Kristen di Indonesia timur, Maluku dan Sulawesi baru-baru ini, dan telah mengusir setengah jutaan lainnya dari rumah mereka. ”

Yang membuat konyol bukan soal Laskar Jihadnya, karena laskar yang ini pun kita tahu betul apa kerjanya ketika tengah bergelora Jihad di Ambon. Tetapi, kekonyolan yang menganggap pihak Muslim yang harus bertanggungjawab atas matinya ribuan umat Kristen di Maluku dan Sulawesi. Padahal, yang memulai konflik, yang memulai serangan, memulai pembantaian, memulai perkosaan, memulai pengusiran, di Ambon sama sekali bukan umat Islam, tapi non-Muslim. Betapa naifnya kalimat itu.

Situs ini pun tanpa tedeng aling-aling menyatakan kelompok Islam Radikal sebagai kelompok yang diilhami Setan. Lihat saja halaman berjudul “Sebuah ‘Fatwa Musikal’ Melawan Kebencian & Terorisme Religius”.

Bendera perang telah dikibarkan oleh mereka. Genderang telah ditabuh. Umat Islam Indonesia harus dididik agar memahami dengan penuh kesadaran agar bisa menilai mana Islam yang benar dan baik, Islam yang berkiblat ke Makkah, yang Nabinya bernama Muhammad Rasulullah SAW, dan mana Islam made in Amerika yang berkiblat ke Washington dan Pentagon, serta nabinya bernama George W. Bush. Ini merupakan pekerjaan besar yang harus ditunaikan oleh orang-orang yang menyandang sebutan Ustadz dan Ulama. Tinggalkanlah paradigma bahwa umat itu komoditas atau alat untuk mendorong mobil mogok, yang didekati jika sedang diperlukan, namun ditinggal kabur ketika sudah tidak dibutuhkan.

Pengkhianat Muslim

Situs harian Jerusalem Post pada Jum’at (8/12) menurunkan sebuah berita berjudul “Indonesian Peace Delegation Meet With Peres” (Delegasi Perdamaian dari Indonesia Temui Shimon Peres).

Kelima orang Indonesia tersebut berasal dari Yayasan LibForAll, sebuah yayasan swasta yang berasal dari Amerika Serikat yang tujuannya untuk memerangi Islam Kafaah dan mempromosikan Islam yang bersekutu dengan Zionis-Israel. Abdurrahman Wahid menjadi pelindung yayasan LibForAll dan anggotanya antara lain Yeni Wahid, Abdul Munir Mulkhan, Ahmad Dani (Dewa19), dan sederet aktivis JIL lainnya. Perjalanan mereka ke Tanah Palestina yang diduduki Israel bekerjasama dengan Simon Wiesenthal Center, sebuah LSM Amerika pendukung utama Zionisme.

Berita ini ditulis oleh Greer Fay Cashman. Di awal artikelnya Cashman menulis, “Walau tidak ada hubungan diplomatik formal antara Israel dan Indonesia, lima orang anggota Delegasi Perdamaian Indonesia menemui Presiden Israel Shimon Peres, Jum’at (8/12) di Yerusalem. ”

Lima orang tersebut oleh Jerusalem Post dianggap merepresentasikan dua ormas terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, yang memiliki anggota sebanyak 70 juta rakyat Indonesia, dari 195 juta rakyat Indonesia yang Muslim.

Di depan kelima orang Indonesia, Peres sempat mengatakan bahwa kedatangan mereka akan menimbulkan spekulasi di Indonesia, karena selain Israel tidak memiliki hubungan resmi dengan Indonesia, setiap ada orang Indonesia yang ke Israel selalu saja menjadi berita kontroversi.

Mengatasnamakan Indonesia

C. Holland Taylor, pimpinan dari yayasan LibForAll yang sangat pro-Zionis, menyatakan kepada Peres bahwa Abdurrahman Wahid baru-baru ini mengeluarkan sikap yang menolak dan menentang HAMAS dalam persoalan di Palestina. Taylor juga berkata bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia di mana HAMAS ditolak oleh ormas Islam terbesar di dunia.

Jpost kembali menulis, “Syfiq Mugni (Syafiq Mugni?), tokoh Muhammadiyah, berbicara dengan Peres yang mengenakan kippa dengan tulisan "shalom" dalam bahasa Ibrani dan Latin, begitu gembira dengan orang-orang Indonesia yang mengunjunginya dan bahkan mereka menyerang HAMAS serta mendukung Zionis-Israel, sehingga Peres mencopot kippa yang dikenakannya dan mengenakannya ke kepala tamunya tersebut.

Pertemuan itu diisi dengan berbagai topik pembicaraan antara lain bidang ekonomi, politik, regional, dan peringatan 60 tahun berdirinya Israel di Tanah Palestina.

Kepada Peres Mugni antara lain menyatakan, “Kita berharap suatu waktu Muslim di Indonesia bisa bersikap lebih toleran dan mengutamakan demokrasi. Hal ini bisa dilakukan antara lain lewat jalur pendidikan, untuk mengubah mental Muslim di Indonesia agar bisa bersikap lebih terbuka. ” Maksudnya jelas, agar Muslim Indonesia bisa menerima Zionis-Israel sebagai sekutu, sama seperti dirinya dan kawan-kawannya dari LibForAll.

Ulama NU yang disebut dengan nama Abul A'la (bisa jadi nama-nama ini merupakan nama alias), mengamini Mugni dan menyatakan bahwa di Indonesia ada segolongan Teroris Muslim. “Namun hal itu tidak mencerminkan keseluruhan Muslim di Indonesia. Kami akan secepatnya menghadapi itu dan mempromosikan Islam yang penuh kedamaian. Kami tidak bisa hidup tanpa kedamaian. ”

Kelima orang Inadonesia ini juga menyatakan bahwa mereka telah mencoba untuk berbicara dengan Kubu Mahmud Abbas yang juga pro Israel agar tercipta kerjasama saling menguntungkan antara Palestina, Israel, dan mereka sendiri. “Kami mendoakan itu, ” ujar Mugni.

Peres bercerita bahwa Juni lalu, di Bali telah diselenggarakan konferensi besar yang menentang sikap Iran atas penafikkannya terhadap Holokous yang dihadiri oleh Gus Dur, dan beberapa tokoh agama lain termasuk dari Israel.

Oktober lalu, tambah Peres, tujuh delegasi wartawan dari Indonesia juga datang ke Israel dan bertemu dengannya.

Kelima orang Indonesia anggota LibForAll itu selama di wilayah pendudukan Zionis-Israel ditemani oleh Dean Rabbi Abraham dari Wiesenthal Center dan C. Holland Taylor, CEO LibForAll. Mereka ikut merayakan ritual Yahudi Hanukka, menikmati tarian di Kiryat Shmona, mengunjungi Betlehem dan juga Masjid Al-Aqsha di Yerusalem, setelah bertemu Peres. Selain itu, mereka juga mengunjungi sebuah sekolah di Sderot dan memantau wilayah Jalur Gaza dari kejauhan. (dakta)

Oleh Redaksi Swaramuslim.net
Kutip dari : http://swaramuslim.net/more.php?id=6257_0_1_0_M

Read More......

Buku ‘Ilusi Negara Islam’ Dinilai Mengadu Domba Umat

Yogyakarta, NU Online
Empat Peneliti asal Yogyakarta, Zuli Qodir, Adur Rozaki, Laode Arham, Nur Khalik Ridwan, memrotes isi buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang diterbitkan The Wahid Istitute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. Buku itu dinilai tidak sesuai dengan yang diteliti dan isinya mengadu domba umat Islam.

”Saya tidak berani lagi pulang ke Madura, karena terbitnya buku ini. Bisa-bisa saya dikalungi clurit karena buku ini mengadu domba umat Islam,” kata Abdur Rozaki, Yogyakarta, dikutip dari Republika Online, Senin (25/5).


Dijelaskan Zuli , isi buku ‘Ilusi Negara Islam’ bukan merupakan hasil penelitiannya meskipun mereka disebut sebagai penelitinya. Sebab, isi dari buku tersebut telah menyimpang dari yang mereka teliti. Selain itu, pihaknya juga tidak dilibatkan dalam proses penerbitan.

”Kami tidak pernah diajak dialog di dalam proses menganalisis data dan membuat laporan peneliltian sampai penerbitan menjadi sebuah buku,” kata Zuli.

Bahkan, lanjut Zuli, dalam proses pengumpulan data, beberapa nama yang dicantumkan dalam buku tersebut sebagai peneliti jauh hari sudah mengundurkan diri namun masih dicantumkan, seperti Khalik Ridwan dan Abdur Rozaki. Sehingga keduanya sudah tidak terlibat lagi dalam tahap penelitian mulai dari pengumpulan data, analisis data, penulisan laporan hingga penerbitan buku.

Kata Zuli, tujuan penerbitan buku ‘Ilusi Negara Islam’ telah bergeser dari riset yang semula bertujuan akademik kepada politis. Kondisi ini diperkuat hampir semua peneliti daerah yang namanya tercantum dalam buku tersebut tidak pernah diajak untuk berdialog menganalisis temuannya dalam kerangka laporan hasil penelitian yang utuh.

”Para peneliti daerah namanya dicatut hanya sebagai legitimasi politis dari kepentingan pihak asing. Sebagaimana dilakukan Holland Taylor dari Lib for All, Amerika Serikat yang begitu dominan bekerja dalam kepentingan riset dan penerbitan buku ini.

Karena itu, peneliti Yogyakarta menuntut kepada Lib for All untuk menarik peredaran buku tersebut jika tetap mencantumkan nama-nama peneliti Yogyakarta. ”Kami mengimbau kepada para peneliti dan intelektual Indonesia untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah diperalat dan dimanipulasi kepentingan agen intelektual asing yang bekerja di Indonesia,” tandasnya.

Bahkan, yang aneh dari peneribatan buku tersebut adalah pencantuman KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur sebagai editornya. Padahal, selama ini Gus Dur terganggu penglihatannya sehingga tidak mungkin Gus Dur bisa mengeditnya. ”Ini sudah kebablasan,” kata Abdur Rozaki.

Sementara, Ahmad Suadey, Direktur The Wahid Institute kepada Zuli Qodir mengirim SMS bahwa dirinya tidak tahu persis isi buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang diterbitkannya. Karena itu, dirinya merasa kaget ketika mendapat protes dari peneliti Yogyakarta.

”Aku malah baru tahu ini. Kalau gitu perlu klarifikasi ke Lib for All. Kalau perlu teman-teman bikin nota protes tertulis. Aku enggak keberatan karena saya tidak berhubungan dengan isi sama sekali,” kata Ahmad Suaedy. (NU online; Selasa, 26 Mei 2009 04:09)

Read More......

Ilusi Negara Islam ? : Syariah Islam Berbahaya Karena Mengancam Penjajahan Kapitalisme Global

Mediaumat.com.”Alhamdulillah disebut berbahaya, berarti kan Islam diperhitungkan terus oleh mereka. Ditakuti oleh mereka. Dianggap berbahaya ya tidak ada masalah.” ujar Pengamat Intelijen Herman Ibrahim kepada mediaumat.com Rabu (19/5) di Bandung menanggapi peluncuran buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia. Buku setebal 322 halaman itu diterbitkan atas kerja sama Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute, dan Maarif Institute.


Lebih lanjut Herman menyatakan Mereka itu memang tidak akan pernah berhenti. Dengan segala macam cara menyerang syariah Islam bahkan dengan mengatasnamakan pesantren, departemen agama, ormas-ormas Islam terbesar. Buku semacam ini kan dulu juga ada yang diusung oleh Nur Cholis Majid. Diantaranya buku fikih lintas agama. Sudah jelas buku-buku semacam itu didanai oleh fihak asing. ”Mereka berbuat itu untuk kepentingan Zionis,” tandasnya.

Perlu diingat watak transnasional wajar saja, mengingat Islam memang agama bagi seluruh manusia di dunia termasuk di Indonesia. Mereka kuatir syariah Islam diterapkan di negeri yang mayoritas Muslim ini. Oleh karena itu mereka memainkan isu transnasional dan nasional. Jangan lupa nasionalisme merupakan anak kandung dari ideologi-ideologi global yang tentu saja bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, anak kandung ini, harus menciptakan musuh. Musuhnya itu yakni Islam. Sehingga diisyukanlah syariah mengancam NKRI.

Tentu saja NKRI yang mereka maksud adalah NKRI yang merupakan kepanjangtanganan kapitalisme global, seperti neolib, pluralisme, sekularisme, liberalisme, dan kepentingan barat lainnya itu yang bersifat transnasional pula. Sehingga sudah pasti syariah Islam dianggap berbahaya karena memang mengancam kepentingan kapitalisme global itu. ”Dalam perang pemikiran inikan memang yang jadi musuh itu ya orang-orang seperti itu. Tidak ada yang aneh. Wahid Institute dan Maarif Institute itu sama saja dengan JIL. Sama-sama kelompok liberal. Orangnya ya itu-itu juga,” simpulnya.[] joko prasetyo

Read More......

Sistem Pendidikan Islam Solusi bagi Pendidikan Nasional

BOGOR — Praktisi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr Arim Nasim menilai, sistem pendidikan Islam dapat memecahkan berbagai masalah akibat sistem pendidikan nasional yang dianut Indonesia. Kegagalan sistem pendidikan nasional tampak dari input, proses, dan output-nya.


”Sistem pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis untuk membentuk manusia yang berkarakter berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam, dan menguasai ilmu serta teknologi,” kata Dr Arim saat berbicara dalam seminar dan workshop nasional pendidikan bertema ’Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional: Sistem Pendidikan Islam sebagai Pendidikan Alternatif Mewujudkan Indonesia yang Lebih Baik’ di Graha Widya Wisuda Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga, Ahad (24/5). Acara yang dihadiri sekitar seribu peserta ini diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (KM) dan Lembaga Dakwah Kampus Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB.

Menurutnya sistem pendidikan Islam ini bukan berarti hanya diperuntukkan umat Islam atau berorientasi akhirat semata. Non-muslim sebagai warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang sama. Manusia, khususnya umat Islam, sangat dianjurkan menguasai ilmu dan teknologi dalam mempermudah setiap urusan keduniawian. ”Ini juga telah dibuktikan pada era keemasan Kekhilafahan Umayyah, Abbasiyah, dan Ustmaniyah. Pada masa itu ilmu dan teknologi di dunia Islam sangat maju, sedangkan Eropa dalam masa kegelapan,” paparnya.

Dalam Islam, suksesnya pendidikan tanggung jawab bersama antara individu, masyarakat dan negara, tapi pembiayaan pendidikan sepenuhnya tanggung jawab negara. ”Terjadi sinergis yang kuat antara individu, masyarakat dan negara. Berbeda dengan sistem pendidikan nasional saat ini yang berasaskan sekulerisme dan liberalisme. Sistem pendidikan sekarang tidak terjadi sinergis antara tiga peran fungsional pendidikan tersebut,” papar Dr Arim dalam siaran pers Humas IPB yang diterima Republika, Senin (25/5).

Di samping itu, katanya, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Tahun 2003 pembiayaan pendidikan dipikul tiga pihak, yakni individu (peserta didik), masyarakat, dan negara. Pembiayaan pendidikan dalam Islam terkait dengan politik ekonomi. Politik ekonomi Islam mewajibkan negara untuk memenuhi kebutuhan pokok individu (sandang, pangan dan papan ) dan kebutuhan pokok masyarakat (kesehatan, keamanan dan pendidikan ) secara menyeluruh.

Menurut Arim, pendidikan dalam sistem Islam wajib diselenggarakan oleh negara dengan biaya semurah-murahnya, bahkan gratis. Sumber-sumber pembiayaan pendidikan dalam Islam diambil dari pengelolaan negara atas kepemilikan umum berupa sumberdaya alam tambang, minyak, gas, kelautan, kehutanan, dan sebagainya. Islam melarang pengelolaan sumberdaya alam pada asing. Sumber-sumber pembiayaan pendidikan lain dapat diambil dari harta milik negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ghanîmah, kharaj, fai, jizyah, dan tebusan tawanan perang, zakat, infak, wakaf, sedekah, dan hadiah. Pajak merupakan pendapatan alternatif terakhir atau bersifat insidentil (temporal) dan hanya dipungut pada orang kaya.

Dia mengatakan, iklan di media masa yang mengatakan sekolah gratis sejatinya adalah suatu bentuk kebohongan terselubung. Sebab, uang untuk biaya sekolah yang diambil dari APBN berasal dari 80 persen pajak masyarakat. Jadi tidak gratis, tapi uang rakyat.

Hal senada diungkapkan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Dr Bedjo Sujanto, M.Pd. Dia mengatakan, sulit sekali menemukan sekolah yang benar-benar gratis, khususnya di daerah-daerah. Bedjo juga mengkritisi visi misi dan tujuan pendidikan yang kadang kurang sinkron dengan kenyataan lapang. Namun ia menghimbau para guru agar tegar dan profesional mengajar. ”Kisah Laskar Pelangi dapat kita jadikan contoh. Berbagai hambatan dan keterbatasan, tak membuat Bu Muslimah dan murid mencapai cita-cita tinggi,” katanya.

Rektor IPB, Dr Ir Herry Suhardiyanto,MSc menyampaikan materi tentang pendidikan tinggi dalam perspektif persaingan global. Dia mengatakan, terdapat isu-isu strategis pendidikan tinggi meliputi daya saing, penelitian, pasca sarjana, diferensiasi misi, akses pengetahuan, otonomi, kesehatan organisasi, dan pendanaan. Semua isu strategis ini merupakan tantangan yang harus dihadapi. IPB sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik Indonesia menjadikan tantangan tersebut sebagai peluang. “Patut disyukuri, IPB secara bertahap memperbaiki ranking di tingkat internasional,” ucapnya. (Republika online, 25/05/2009-pukul 17:41)

Read More......

Facebook-an Berlebihan Diharamkan Ponpes Se Jawa-Madura

Berita terkait :
- Ulama Jatim Fatwakan Facebook Haram ( http://www.bangkapos.com )
- Khawatir Dampak Negatif, Facebook Akan Diharamkan ( http://www.tribun-timur.com )

Boomingnya layanan situs jejaring sosial, seperti Facebook, Friendster maupun chatting untuk menjalin hubungan pertemanan diam-diam diawasi oleh ulama.

Pondok Pesantren se Jawa-Madura yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri (FMP3) bahkan mengharamkan pemanfaatan situs jejaring sosial ini secara berlebihan, seperti mencari jodoh maupun pacaran.


Pernyataan ini sesuai dengan hasil pembahasan dalam forum Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtdien Lirboyo, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang dilaksanakan sejak 2 hari yang lalu.

"Ini merupakan hasil pembahasan terakhir yang kami lakukan semalam. Intinya, larangan ini kami keluarkan sesuai dengan aturan yang sudah ada dalam ketentuan agama," kata salah satu anggota perumus Komisi C FMP3, Masruhan saat ditemui detiksurabaya.com di Pondok Pesantren Lirboyo, Jumat (22/5/209).

Dijelaskan oleh Masruhan, larangan tersebut ditekankan pada adanya hubungan pertemanan spesial yang berlebihan. Apabila hubungan pertemanan spesial tersebut dilakukan untuk mengenal karakter seseorang dalam kerangka keinginan menikahinya dengan keyakinan keinginannya akan mendapatkan restu dari orang tua, hal tersebut tetap diperbolehkan.

"Disini yang dilarang apabila penggunan Facebook hanya untuk mencari jodoh dan mengenal karakternya dan tidak dalam proses khitbah (pinangan atau lamaran)," jelas Masruhan.

Dalam penentuan pernyataan tersebut, FMP3 menggunakan sejumlah dasar. Antara lain Kitab Bariqah Mahmudiyah halaman 7, Kitab Ihya' Ulumudin halaman 99, Kitab Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra halaman 203, serta sejumlah kitab dan tausyiyah dari ulamak besar.

"Intinya yang kami hasilkan ini sesuai dengan ketentuan dalam agama, yang secara tegas sudah menyebutkan hubungan pertemanan spesial tanpa ada maksud keseriusan diharamkan," ungkap Masruhan.

Dijadikannya penggunaan layanan jejaring sosial sebagai pembahasan dalam forum Bahtsul Masail, dijelaskan oleh Masruhan dikarenakan penggunaannya sudah dianggap sangat mengkhawatirkan. Pertemanan dalam Facebook oleh masyarakat, sejauh ini dianggap lebih sering dilakukan dengan sifat tidak serius.

Secara terpisah juru bicara forum Bahtsul Masail FMP3, Nabil Haroen menegaskan, dalam pengambilan keputusan tersebut pihaknya menggunakan dasar yang berbeda dengan dasar yang digunakan oleh forum lain.

"Seperti MUI kalau memiliki dasar lain dengan keputusan yang berbeda kami tidak dapat menyalahkan. Kami hanya menjalankan kewajiban seorang muslim untuk saling mengingatkan, dengan tidak ada maksud menekan," kata Nabil.

Ditegaskan oleh Nabil, hukum haram yang dikeluarkan pihaknya hanya untuk penggunaan Facebook untuk hubungan pertemanan spesial yang berlebihan. Layanan jejaring sosial semacam Friendster dan Facebook tetap dinyatakan halal apabila dipergunakan sesuai dengan manfaat dan kegunaannya.

"Kami juga harapkan, pernyataan ini bisa dijadikan pelajaran bagi owner Facebook atau Friendster, agar mereka lebih selektif serta menggunakan kontrol ketat terhadap penggunaannya," pungkas Nabil.
( gik / ash )

Read More......

Perjuangan PKS Sudah Mati?


INILAH.COM, Jakarta – PKS telah mati dan para elite pimpinannyalah yang membunuhnya! Gara-gara sikap elite pimpinannya yang plin-plan dan mencla-mencle, PKS kini kehilangan harapan untuk membangun masa depan. Partai dakwah itu kini terperangkap di ranah kekuasaan dan pragmatisme; kehilangan substansi dakwah yang menjadi wahana perjuangannya.

Dalam menyikapi keputusan Kubu SBY memilih Boediono sebagai cawapres, para elite Dewan Syuro dan DPP PKS (Hilmi Aminudin, Tifatul Sembiring, dan Anis Matta) yang berfokus terkesan sangat mudah bermain sulapan.


“Seolah esuk dele sore tempe (pagi kedelai, sore sudah tempe), begitu cepat marah dan berubah. Ini jelas bukan dakwah, tapi politik berkedok dakwah, yang mudah sesat. Itu kurang ajar,” kata Moh Shofan, pengamat Islam politik dan aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah.

Para analis politik melihat orientasi materi dan kekuasaan sudah menghancurkan nilai dakwah PKS, sehingga PKS kini ‘bukan partai, bukan keadilan, bukan juga sejahtera’ alias ‘partai yang bukan-bukan’. Ini mengingatkan publik kepada kisah PPP di era Orde Baru, di saat cendekiawan Muslim Prof Jalaluddin Rakhmat menyebut PPP sebagai ‘bukan partai, bukan persatuan, bukan pembangunan’.

Kritik terhadap mencla-menclenya sikap PKS terkait dukungannya terhadap SBY juga terus mengalir. PKS dinilai telah kehilangan jati diri akibat keputusan yang berubah-ubah tersebut.

“Selain itu, sekarang PKS juga terlihat kehilangan arah dan orientasi. Apa sih sebenarnya yang mereka cari?," kata peneliti politik LIPI, M Nurhasim.

Menurut da, perubahan drastis sikap PKS yang awalnya menolak figur Boediono menyimpan tanda tanya besar. Alasannya, perubahan tersebut terjadi setelah PKS mendapat penjelasan langsung dari SBY.

Akhirnya, PKS sudah kehilangan arah ketika harus berhadapan dengan politik praktis dan mengalami degradasi moral. “Para elite PKS sudah mendegradasi dan menegasikan spirit umat,” tegasnya.

Partai-partai ingin berkoalisi dengan Demokrat untuk mengejar kekuasaan. Ini semua terjadi karena posisi tawar PKS, seperti juga PKB dan PPP, sangat lemah dan rentan menghadapi tawaran kekuasaan dan dana.

Buya Ahmad Syafii Maarif menyebutkan, kini tak ada lagi pemimpin Islam yang disegani, bahkan Amien Rais sekalipun sudah bukan pemimpin Islam lagi. Kasus kubu SBY menunjukkan lemahnya kepemimpinan Islam itu, yang gagal meyakinkan SBY agar memilih sosok wakil presiden dari sayap Islam.

“Islam politik sudah tak lagi dianggap,” kata Buya Syafii Maarif, guru besar Universitas Negeri Jakarta dan mantan Ketua PP Muhammadiyah.

Para analis melihat dengan bunuh diri karakter oleh PKS, praktis partai-partai berbasis Islam seperti PAN, PPP, PKB, dan PBB sudah menjadi 'macan ompong' di meja kekuasaan. Padahal belum jelas siapa yang terpilih jadi presiden di masa depan.

“Inikah akhir politik Islam?,” kata Moh Shofan, pemerhati politik Islam lulusan pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. [P1]

Read More......

Pengamat: Usul PKS Mengenai Islam-Nasionalis Tak Relevan

Written by abdurrohim
Tuesday, 19 May 2009 01:45 :

JAKARTA — Pengamat politik dari Universitas Indonesia Prof Iberamsjah mengatakan, usul yang diberikan PKS bahwa harus ada unsur nasionalis dan Islam dalam puncak kekuasaan tidak relevan.

“Ridak relevan membawa-bawa Islam dalam hal ini. Sekarang ini PKS sedang menjual Islam untuk kepentingan-kepentingan politik mereka, karena toh selama ini kiprah mereka juga tidak Islami semuanya,” katanya.


Jika meyakini pasangan nasionalis-Islam lebih baik dan akan dipilih rakyat, lanjutnya, sebaiknya PKS mencari partner koalisi nasionalis lainnya untuk disandingkan dengan tokoh PKS.
“PKS bisa mencari calon nasionalis lainnya seperti Megawati atau Prabowo,” katanya.

Mengenai Cawapres Boediono yang dipilih SBY, Iberamsjah mengatakan, tampaknya Partai Demokrat, PKS, PAN, serta PPP akan kesulitan mencari titik temu terkait calon wakil presiden karena masing-masing mempunyai kepentingan berbeda.

“Sulit dicarikan titik temu di antara Partai Demokrat dan partai anggota koalisi tersebut karena Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maunya tetap Boediono, sementara yang lain tidak,” katanya di Jakarta, Rabu.
Yang terjadi, lanjut guru besar ilmu politik itu, justru martabat ketiga partai itu sekarang dipertaruhkan karena masing-masing terlanjur menyampaikan ancaman akan menarik diri.
Dikatakannya, jika mereka benar-benar ingin martabatnya tetap tinggi, maka mereka harus memisahkan diri dari koalisi Partai Demokrat dan mencoba hal lain.
“Jika ternyata mereka pada akhirnya menerima juga Boediono, maka ancaman itu pasti dipandang masyarakat sebagai gertakan untuk memperoleh kekuasaan saja,” kata direktur operasional Puskapol UI itu. (Republika online, 14/05/2009)

Read More......